<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Licin Pisan</title>
	<atom:link href="http://licinpisan.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://licinpisan.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com site</description>
	<lastBuildDate>Fri, 27 Aug 2010 11:16:43 +0000</lastBuildDate>
	<language>su</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='licinpisan.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/85a63b5438e76a6dda3e694756dce4ef?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Licin Pisan</title>
		<link>http://licinpisan.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://licinpisan.wordpress.com/osd.xml" title="Licin Pisan" />
	<atom:link rel='hub' href='http://licinpisan.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Materi Ke-”PENCINTA ALAM”-an</title>
		<link>http://licinpisan.wordpress.com/2010/06/01/materi-ke-pencinta-alam-an/</link>
		<comments>http://licinpisan.wordpress.com/2010/06/01/materi-ke-pencinta-alam-an/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Jun 2010 13:35:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Suhex Reccurence</dc:creator>
				<category><![CDATA[Materi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://licinpisan.wordpress.com/?p=70</guid>
		<description><![CDATA[Di Blog ini Simkuring nyusun materi-materi PA atawa Pencinta Alam,,, mangga nyanggakeun.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=licinpisan.wordpress.com&amp;blog=13934866&amp;post=70&amp;subd=licinpisan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="color:#800000;">Di Blog ini Simkuring nyusun materi-materi PA atawa Pencinta Alam,,, mangga nyanggakeun.</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/licinpisan.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/licinpisan.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/licinpisan.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/licinpisan.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/licinpisan.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/licinpisan.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/licinpisan.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/licinpisan.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/licinpisan.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/licinpisan.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/licinpisan.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/licinpisan.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/licinpisan.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/licinpisan.wordpress.com/70/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=licinpisan.wordpress.com&amp;blog=13934866&amp;post=70&amp;subd=licinpisan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://licinpisan.wordpress.com/2010/06/01/materi-ke-pencinta-alam-an/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/66a5e99c4e95b19efeb7bf86d4ca3525?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">licinpisan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pengetahuan Dasar Survival</title>
		<link>http://licinpisan.wordpress.com/2010/05/31/pengetahuan-dasar-survival/</link>
		<comments>http://licinpisan.wordpress.com/2010/05/31/pengetahuan-dasar-survival/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 May 2010 11:05:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Suhex Reccurence</dc:creator>
				<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Pengetahuan Dasar Survival]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://licinpisan.wordpress.com/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[Pengetahuan dasar Survival Oleh: Wana Dian Cala Survival berasal dari kata survive yang berarti mampu mempertahankan diri dari keadaan tertentu .dalam hal ini mampu mempertahankan diri dari keadaan yang buruk dan kritis. Survivor adalah orang yang sedang mempertahankan diri dari keadaan yang buruk. mengapa Ada Survival ? Timbulnya kebutuhan survival karena adanya usaha manusia untuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=licinpisan.wordpress.com&amp;blog=13934866&amp;post=27&amp;subd=licinpisan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span id="more-27"></span><span style="color:#800000;">Pengetahuan dasar Survival</span></strong><span style="color:#800000;"><br />
Oleh:<br />
</span> <em><span style="color:#800000;"> Wana Dian Cala</span></em></p>
<p><span style="color:#800000;">Survival berasal dari kata survive yang berarti mampu mempertahankan diri dari keadaan tertentu .dalam hal ini mampu mempertahankan diri dari keadaan yang buruk dan kritis. Survivor adalah orang yang sedang mempertahankan diri dari keadaan yang buruk.</span></p>
<p><span style="color:#800000;">mengapa Ada Survival ?<br />
Timbulnya kebutuhan survival karena adanya usaha manusia untuk keluar dari kesulitan yang dihadapi. Kesulitan-kesulitan tsb antara lain : Keadaan alam (cuaca dan medan), Keadaan mahluk hidup disekitar kita (binatang dan tumbuhan), Keadaan diri sendiri (mental, fisik, dan kesehatan), Banyaknya kesulitan-kesulitan tsb biasanya timbul akibat kesalahan-kesalahan kita sendiri.<br />
Dalam keadan tersebut ada beberapa faktor yang menetukan seorang Survivor mampu bertahan atau tidak., antara lain : mental ,kurang lebih 80% kesiapan kita dalam survival terletak dari kesiapan mental kita.</span></p>
<p><span style="color:#800000;">Timbulnya kebutuhan survival karena adanya usaha manusia untuk keluar dari kesulitan yang dihadapi. Kesulitan-kesulitan tsb antara lain :<br />
• Keadaan alam (cuaca dan medan)<br />
• Keadaan mahluk hidup disekitar kita (binatang dan tumbuhan)<br />
• Keadaan diri sendiri (mental, fisik, dan kesehatan)<br />
Banyaknya kesulitan-kesulitan tsb biasanya timbul akibat kesalahan-kesalahan kita sendiri.</span></p>
<p><strong><span style="color:#800000;">Definisi Survival</span></strong><span style="color:#800000;"><br />
Arti survival sendiri terdapat berbagai macam versi, yang akan kita bahas di sini hanyalah menurut versi pencinta alam<br />
S : Sadar dalam keadaan gawat darurat<br />
U : Usahakan untuk tetap tenang dan tabah<br />
R : Rasa takut dan putus asa hilangkan<br />
V : Vitalitas tingkatkan<br />
I : Ingin tetap hidup dan selamat itu tujuannya<br />
V : Variasi alam bisa dimanfaatkan<br />
A : Asal mengerti, berlatih dan tahu caranya<br />
L : Lancar, slaman, slumun, slamet</span></p>
<p><span style="color:#800000;">Jika anda tersesat atau mengalami musibah, ingat-ingatlah arti survival tsb, agar dapat membantu anda keluar dari kesulitan. Dan yang perlu ditekankan jika anda tersesat yaitu istilah &#8220;STOP&#8221; yang artinya :<br />
S : Stop &amp; seating / berhenti dan duduklah<br />
T : Thingking / berpikirlah<br />
O : Observe / amati keadaan sekitar<br />
P : Planning / buat rencana mengenai tindakan yang harus dilakukan</span></p>
<p><strong><span style="color:#800000;">Kebutuhan survival</span></strong><span style="color:#800000;"><br />
Yang harus dipunyai oleh seorang survivor<br />
1. Sikap mental<br />
- Semangat untuk tetap hidup<br />
- Kepercayaan diri<br />
- Akal sehat<br />
- Disiplin dan rencana matang<br />
- Kemampuan belajar dari pengalaman</span></p>
<p><span style="color:#800000;">2. Pengetahuan<br />
- Cara membuat bivak<br />
- Cara memperoleh air<br />
- Cara mendapatkan makanan<br />
- Cara membuat api<br />
- Pengetahuan orientasi medan<br />
- Cara mengatasi gangguan binatang<br />
- Cara mencari pertolongan</span></p>
<p><span style="color:#800000;">3. Pengalaman dan latihan<br />
- Latihan mengidentifikasikan tanaman<br />
- Latihan membuat trap, dll</span></p>
<p><span style="color:#800000;">4. Peralatan<br />
- Kotak survival<br />
- Pisau jungle , dll</span></p>
<p><span style="color:#800000;">5. Kemauan belajar<br />
Langkah yang harus ditempuh bila anda/kelompok anda tersesat :<br />
• Mengkoordinasi anggota<br />
• Melakukan pertolongan pertama<br />
• Melihat kemampuan anggota<br />
• Mengadakan orientasi medan<br />
• Mengadakan penjatahan makanan<br />
• Membuat rencana dan pembagian tugas<br />
• Berusaha menyambung komunikasi dengan dunia luar<br />
• Membuat jejak dan perhatian<br />
• Mendapatkan pertolongan</span></p>
<p><strong><span style="color:#800000;">Bahaya-bahaya dalam survival</span></strong><span style="color:#800000;"><br />
Banyak sekali bahaya dalam survival yang akan kita hadapi, antara lain :<br />
1. Ketegangan dan panik<br />
Pencegahan :<br />
- Sering berlatih<br />
- Berpikir positif dan optimis<br />
- Persiapan fisik dan mental</span></p>
<p><span style="color:#800000;">2. Matahari / panas<br />
- Kelelahan panas<br />
- Kejang panas<br />
- Sengatan panas</span></p>
<p><span style="color:#800000;">Keadaan yang menambah parahnya keadaan panas :<br />
- Penyakit akut/kronis<br />
- Baru sembuh dari penyakit<br />
- Demam<br />
- Baru memperoleh vaksinasi<br />
- Kurang tidur<br />
- Kelelahan<br />
- Terlalu gemuk<br />
- Penyakit kulit yang merata<br />
- Pernah mengalami sengatan udara panas<br />
- Minum alkohol<br />
- Dehidrasi</span></p>
<p><span style="color:#800000;">Pencegahan keadaan panas :<br />
- Aklimitasi<br />
- Persedian air<br />
- Mengurangi aktivitas<br />
- Garam dapur<br />
- Pakaian :<br />
- Longgar<br />
- Lengan panjang<br />
- Celana pendek<br />
- Kaos oblong</span></p>
<p><span style="color:#800000;">3. Serangan penyakit<br />
- Demam<br />
- Disentri<br />
- Typus<br />
- Malaria</span></p>
<p><span style="color:#800000;">4. Kemerosotan mental<br />
Gejala : Lemah, lesu, kurang dapat berpikir dengan baik, histeris<br />
Penyebab : Kejiwaan dan fisik lemah<br />
Keadaan lingkungan mencekam<br />
Pencegahan : Usahakan tenang<br />
Banyak berlatih</span></p>
<p><span style="color:#800000;">5. Bahaya binatang beracun dan berbisa<br />
Keracunan<br />
Gejala : Pusing dan muntah, nyeri dan kejang perut, kadang-kadang<br />
mencret, kejang-kejang seluruh badan, bisa pingsan.<br />
Penyebab : Makanan dan minuman beracun<br />
Pencegahan : Air garam di minum<br />
Minum air sabun mandi panas<br />
Minum teh pekat<br />
Di tohok anak tekaknya</span></p>
<p><span style="color:#800000;">6. Keletihan amat sangat<br />
Pencegahan : Makan makanan berkalori<br />
Membatasi kegiatan</span></p>
<p><span style="color:#800000;">7. Kelaparan</span></p>
<p><span style="color:#800000;">8. Lecet</span></p>
<p><span style="color:#800000;">9. Kedinginan</span></p>
<p><span style="color:#800000;">Untuk penurunan suhu tubuh 30° C bisa menyebabkan kematian<br />
Membuat Bivak (Shelter)<br />
Tujuan : untuk melindungi dari angin, panas, hujan, dingin<br />
Macam :<br />
a. Shelter asli alam<br />
Gua : Bukan tempat persembunyian binatang<br />
Tidak ada gas beracun<br />
Tidak mudah longsor<br />
b. Shelter buatan dari alam<br />
c. Shelter buatan<br />
Syarat bivak :<br />
Hindari daerah aliran air<br />
Di atas shelter tidak ada dahan pohon mati/rapuh<br />
Bukan sarang nyamuk/serangga<br />
Bahan kuat<br />
Jangan terlalu merusak alam sekitar<br />
Terlindung langsung dari angin<br />
Mengatasi Gangguan Binatang<br />
a. Nyamuk<br />
• Obat nyamuk, autan, dll<br />
• Bunga kluwih dibakar<br />
• Gombal dan minyak tanah dibakar kemudian dimatikan sehingga asapnya bisa mengusir nyamuk<br />
• Gosokkan sedikit garam pada bekas gigitan nyamuk<br />
b. Laron<br />
• Mengusir laron yang terlalu banyak dengan cabe yang digantungkan<br />
c. Lebah<br />
Apabila disengat lebah :<br />
• Oleskan air bawang merah pada luka berkali-kali<br />
• Tempelkan tanah basah/liat di atas luka<br />
• Jangan dipijit-pijit<br />
• Tempelkan pecahan genting panas di atas luka<br />
d. Lintah<br />
Apabila digigit lintah :<br />
• Teteskan air tembakau pada lintahnya<br />
• Taburkan garam di atas lintahnya<br />
• Teteskan sari jeruk mentah pada lintahnya<br />
• Taburkan abu rokok di atas lintahnya<br />
e. Semut<br />
• Gosokkan obat gosok pada luka gigitan<br />
• Letakkan cabe merah pada jalan semut<br />
• Letakkan sobekan daun sirih pada jalan semut<br />
f. Kalajengking dan lipan<br />
• Pijatlah daerah sekitar luka sampai racun keluar<br />
• Ikatlah tubuh di sebelah pangkal yang digigit<br />
• Tempelkan asam yang dilumatkan di atas luka<br />
• Bobokkan serbuk lada dan minyak goreng pada luka<br />
• Taburkan garam di sekeliling bivak untuk pencegahan<br />
g. Ular<br />
Pembahasan lebih lanjut dalam materi EMC<br />
Membuat Perangkap (Trap)<br />
Macam-macam trap :<br />
• Perangkap model menggantung<br />
• Perangkap tali sederhana<br />
• Perangkap lubang jerat<br />
• Perangkap menimpa<br />
• Apace foot share<br />
Bahan :<br />
• tali/kawat<br />
• Umpan<br />
• Batang kayu<br />
• Cabang pohon<br />
Membaca Jejak<br />
Jenis :<br />
• Jejak buatan : dibuat oleh manusia<br />
• Jejak alami : tanda jejak sebagai tanda keadaan lingkungan<br />
Jejak alami biasanya menyatakan tentang :<br />
• Jenis binatang yang lewat<br />
• Arah gerak binatang<br />
• Besar kecilnya binatang<br />
• Cepat lambatnya gerak binatang<br />
Membaca jejak alami dapat diketahui dari :<br />
• Kotoran yang tersisa<br />
• Pohon atau ranting yang patah<br />
• Lumpur atau tanah yang tercecer di atas rumput</span></p>
<p><strong><span style="color:#800000;">Air</span></strong><span style="color:#800000;"><br />
Seseorang dalam keadaan normal dan sehat dapat bertahan sekitar 20 – 30 hari tanpa makan, tapi orang tsb hanya dapat bertahan hidup 3 &#8211; 5 hari saja tanpa air.<br />
Air yang tidak perlu dimurnikan :<br />
1. Hujan<br />
Tampung dengan ponco atau-daun yang lebar dan alirkan ke tempat penampungan<br />
2. Dari tanaman rambat/rotan<br />
Potong setinggi mungkin lalu potong pada bagian dekat tanah, air yang menetes dapat langsung ditampung atau diteteskan ke dalam mulut<br />
3. Dari tanaman<br />
Air yang terdapat pada bunga (kantung semar) dan lumut<br />
Air yang harus dimurnikan terlebih dahulu :<br />
1. Air sungai besar<br />
2. Air sungai tergenang<br />
3. Air yang didapatkan dengan menggali pasir di pantai (+ 5 meter dari batas pasang surut)<br />
4. Air di daerah sungai yang kering, caranya dengan menggali lubang di bawah batuan<br />
5. Air dari batang pisang, caranya tebang batang pohon pisang, sehingga yang tersisa tinggal bawahnya lalu buat lubang maka air akan keluar, biasanya dapat keluar sampai 3 kali pengambilan</span></p>
<p><strong><span style="color:#800000;">Makanan</span></strong><span style="color:#800000;"><br />
Patokan memilih makanan :<br />
• Makanan yang di makan kera juga bisa di makan manusia<br />
• Hati-hatilah pada tanaman dan buah yang berwarna mencolok<br />
• Hindari makanan yang mengeluarakan getah putih, seperti sabun kecuali sawo<br />
• Tanaman yang akan dimakan di coba dulu dioleskan pada tangan-lengan-bibir-lidah, tunggu sesaat. Apabila aman bisa dimakan<br />
• Hindari makanan yang terlalu pahit atau asam Hubungan air dan makanan<br />
• Untuk air yang mengandung karbohidrat memerlukan air yang sedikit<br />
• Makanan ringan yang dikemas akan mempercepat kehausan<br />
• Makanan yang mengandung protein butuh air yang banyak</span></p>
<p><strong><span style="color:#800000;">Tumbuhan yang dapat dimakan</span></strong><span style="color:#800000;"><br />
Dari batangnya :<br />
• Batang pohon pisang (putihnya)<br />
• Bambu yang masih muda (rebung)<br />
• Pakis dalamnya berwarna putih<br />
• Sagu dalamnya berwarna putih<br />
• Tebu<br />
Dari daunnya :<br />
• Selada air<br />
• Rasamala (yang masih muda)<br />
• Daun mlinjo<br />
• Singkong<br />
Akar dan umbinya :<br />
• Ubi jalar, talas, singkong<br />
Buahnya :<br />
• Arbei, asam jawa, juwet<br />
Tumbuhan yang dapat dimakan seluruhnya :<br />
• Jamur merang, jamur kayu<br />
Ciri-ciri jamur beracun :<br />
• Mempunyai warna mencolok<br />
• Baunya tidak sedap<br />
• Bila dimasukkan ke dalam nasi, nasinya menjadi kuning<br />
• Sendok menjadi hitam bila dimasukkan ke dalam masakan<br />
• Bila diraba mudah hancur<br />
• Punya cawan/bentuk mangkok pada bagian pokok batangnya<br />
• Tumbuh dari kotoran hewan<br />
• Mengeluarkan getah putih<br />
Binatang yang bisa dimakan<br />
• Belalang<br />
• Jangkrik<br />
• Tempayak putih (gendon)<br />
• Cacing<br />
• Jenis burung<br />
• Laron<br />
• Lebah , larva, madu<br />
• Siput<br />
• Kadal : bagian belakang dan ekor<br />
• Katak hijau<br />
• Ular : 1/3 bagian tubuh tengahnya<br />
• Binatang besar lainnya<br />
Binatang yang tidak bisa dimakan<br />
• Mengandung bisa : lipan dan kalajengking<br />
• Mengandung racun : penyu laut<br />
• Mengandung bau yang khas : sigung</span></p>
<p><strong><span style="color:#800000;">Api</span></strong><span style="color:#800000;"><br />
Bila mempunyai bahan untuk membuat api, yang perlu diperhatikan adalah jangan membuat api terlalu besar tetapi buatlah api yang kecil beberapa buah, hal ini lebih baik dan panas yang dihasilkan merata.<br />
1. Dengan lensa / Kaca pembesar<br />
Fokuskan sinar pada satu titik dimana diletakkan bahan yang mudah terbakar.<br />
2. Gesekan kayu dengan kayu.<br />
Cara ini adalah cara yang paling susah, caranya dengan menggesek-gesekkan dua buah batang kayu sehingga panas dan kemudian dekatkan bahan penyala, sehingga terbakar<br />
3. Busur dan gurdi<br />
Buatlah busur yang kuat dengan mempergunakan tali sepatu atau parasut, gurdikan kayu keras pada kayu lain sehingga terlihat asap dan sediakan bahan penyala agar mudah tebakar.<br />
Bahan penyala yang baik adalah kawul terdapat pada dasar kelapa, atau daun aren</span></p>
<p><strong><span style="color:#800000;">Survival kit</span></strong><span style="color:#800000;"><br />
Ialah perlengkapan untuk survival yang harus dibawa dalam perjalanan :<br />
• Perlengkapan memancing<br />
• Pisau<br />
• Tali kecil<br />
• Senter<br />
• Cermin suryakanta, cermin kecil<br />
• Peluit<br />
• Korek api yang disimpan dalam tempat kedap air<br />
• Tablet garam, norit<br />
• Obat-obatan pribadi<br />
• Jarum + benang + peniti<br />
• dll</span></p>
<p><span style="color:#800000;">Sumber: www.gappala.f2s.com</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/licinpisan.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/licinpisan.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/licinpisan.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/licinpisan.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/licinpisan.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/licinpisan.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/licinpisan.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/licinpisan.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/licinpisan.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/licinpisan.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/licinpisan.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/licinpisan.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/licinpisan.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/licinpisan.wordpress.com/27/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=licinpisan.wordpress.com&amp;blog=13934866&amp;post=27&amp;subd=licinpisan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://licinpisan.wordpress.com/2010/05/31/pengetahuan-dasar-survival/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/66a5e99c4e95b19efeb7bf86d4ca3525?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">licinpisan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Materi Panjat Tebing</title>
		<link>http://licinpisan.wordpress.com/2010/05/30/materi-panjat-tebing/</link>
		<comments>http://licinpisan.wordpress.com/2010/05/30/materi-panjat-tebing/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 May 2010 10:52:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Suhex Reccurence</dc:creator>
				<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Materi Panjat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://licinpisan.wordpress.com/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[Macam-macam Climbing Climbing terbagi 5 macam yaitu 1) Bouldering Pemanjatan tanpa menggunakan alat khusus dengan ketinggian maksimal 5 meter. Pemanjatan ini dilakukan sebagai pemanasan untuk pemanjatan pada medan yang lebh tinggi. 2)Aid Climbing / Artifical Climbing (Direct Aid Climbing) Pemanjatan tebing ini dilakukan dengan menggunakan alat yang selengkap-lengkapnya 3) Bigwall Climbing (Indireck Aid Climbing) Pemanjatan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=licinpisan.wordpress.com&amp;blog=13934866&amp;post=16&amp;subd=licinpisan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><span style="font-weight:normal;font-size:13px;"><strong><span id="more-16"></span>Macam-macam Climbing</strong></span></h2>
<p>Climbing terbagi 5 macam yaitu<br />
<em><strong>1) <span style="text-decoration:underline;">Bouldering</span></strong></em><br />
Pemanjatan tanpa menggunakan alat khusus dengan ketinggian maksimal 5 meter. Pemanjatan ini dilakukan sebagai pemanasan untuk pemanjatan pada medan yang lebh tinggi.<br />
<strong>2)<em><span style="text-decoration:underline;">Aid Climbing / Artifical Climbing (Direct Aid Climbing</span></em><span style="text-decoration:underline;">)</span></strong><br />
Pemanjatan tebing ini dilakukan dengan menggunakan alat yang selengkap-lengkapnya<br />
<em><strong>3) <span style="text-decoration:underline;">Bigwall Climbing (Indireck Aid Climbing</span></strong></em><strong><span style="text-decoration:underline;">)</span></strong><br />
Pemanjatan dengan menggunakan alat atau tidak dengan maksimal ketinggian 5 meter.<br />
<em><strong>4) <span style="text-decoration:underline;">Free Climbing</span></strong></em><br />
Pemanjatan dengan menggunakan alat pengaman seadanya.<br />
<em><strong>5) <span style="text-decoration:underline;">Free Soloing</span></strong></em><em> </em>Pemanjatan ini biasanya dilakukan oleh master-master climbing karena memerlukan pengetahuan tentang climbing lebih jauh dan pemanjatan ini dilakukan tanpa pengaman sama sekali pada tebing-tebing yang tinggi<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>2.2 <span style="text-decoration:underline;">Latihan Fisik</span> </strong><br />
Seorang climber biasanya melakukan pemanasan terlebih dahulu sebelum melakukan pemanjatan. Latihan fisik yang biasanya dilakukan diantaranya:<br />
1) <em>Push up</em>(min 100x dalam satu waktu), kegunaannya yaitu untuk melatih jari agar lebih kuat dalam memegang point.</p>
<p>2)<em>Full up</em> (min 15x dalam satu waktu), kegunaannya yaitu untuk melatih otot tangan .</p>
<p>3)<em>Sit up </em>(min 75x dalam satu waktu),kegunaannya yaitu untuk melatih otot perut.</p>
<p>4)<em>Lari</em> kegunaanya untuk melatih kaki agar tidak kram saat melakukan pemanjatam</p>
<p><em>5)Jumping jack</em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>2.3 Peralatan Climbing</strong></p>
<p><em><strong> </strong></em></p>
<p><em><strong>1)Tali</strong></em></p>
<p>Tali dibagi 2 macam Tali serat alam (tali dadung)<br />
Tali serat sintetis<br />
<strong>Tali serat sintetis dibagi 2 yaitu</strong><strong> </strong></p>
<p>A. Tali Hau serlaid (terbuat dari nilon)<br />
B. Tali Kern mantel, tali ini dibagi 2 bagian yaitu bagian mantel biasanya bagian ini terbuat dari kain khusus dan bagian inti yang umumnya bagian ini terbuat dari serabut-serabut nilon.<br />
Tali kern mantel ada 3 jenis yaitu:</p>
<p>a. Dinamis, tali ini lentur dengan daya regang sekitar 30 % biasa digunakan untuk climbimg</p>
<p>b. Statis, tali ini kurang lentur dan daya regang sekitar 15% biasa digunakan untuk rappelling.<br />
c. Semi, daya regang antara dinamis dan statis dapat digunakan untuk climbing maupun rappelling.<br />
<strong>Cara perawatan tali</strong></p>
<p>1. Usahakan tali jangan terlalu banyak terkena sinar matahari<br />
2. Jaga tali jangan sampai tergesek benda tajam<br />
3. Cuci tali kemudian keringkan di tempat yang tidak terlalu panas<br />
4. Bila sudah kering gosok tali dengan menggunakan lilin<br />
<strong>Hal yang dapat merusak tali</strong></p>
<p>1.Tergesek benda tajam</p>
<p>2.Terlalu banyak terkena sinar matahari</p>
<p>3.Pemakaian yang tidak selayaknya, missal:tali dinamis dipakai untuk rappeling<br />
<em><strong>2) Carabiner</strong></em><br />
Carabiner adalah pengaman pemanjat berupa cincin kail yang meyambungkan raner dengan badan climber yang dipasang pada harness.</p>
<p>Bahan-bahan carabiner:</p>
<p>1. Besi Baja<br />
2. Campuran alumunium</p>
<p>Jenis inti carabiner:</p>
<p>A)Memakai kunci (screw gate,), carabiner jenis ini lebih aman tapi sulit untuk dipasang atau dilepas<br />
B)Tanpa kunci, carabiner ini lebih mudah untuk dipasang dan dilepas tapi keamanannya</p>
<p>tidak seperti carabiner screw gate.<br />
<em><strong>3) Harnes</strong></em></p>
<p><em>Harnes</em> yaitu pengaman yang dipakai oleh climber<br />
Jenisnya yaitu:-sit harness<br />
-full boby (body harness)</p>
<p><em> </em></p>
<p><em><strong>4) Slink</strong></em></p>
<p>Slink yaitu tali penggabung carabiner<br />
Slink ada 2 macam yaitu:</p>
<p>a.slink pita dapat digunakan untuk menyambung carabiner</p>
<p>b.slink prusik</p>
<p><em> </em></p>
<p><em><strong>5) Raner</strong></em><br />
Raner yaitu gabungan antara carabiner dan slink</p>
<p><em> </em></p>
<p><em><strong>6) Sepatu Panjat </strong></em><br />
Sepatu panjat biasanya terbuat dari karet mentah, bagian depan dari sepatu panjat ini lebih keras agar kaki climber tidak sakit.</p>
<p><em> </em></p>
<p><em><strong>7) Webing</strong></em><br />
Webing biasanya digunakan untuk pengaman badan climber pengganti harness yang umumnya terbuat dari nilon.<br />
Kapasitas menahannya sekitar 4000 pon dan kekuatan menahannya tergantung dari simpulnya.<em> </em></p>
<p><em><strong>8) Piton</strong></em><br />
Piton biasanya digunakan pada saat memanjat tebing alam fungsinya sebagai pengaman pemanjatan pengganti raner yang digunakan pada bongkahan-bongkahan batu.</p>
<p><em> </em></p>
<p><em><strong>9) Cok</strong></em><br />
Cok bermacam-macam bentuknya, diantaranya bentuk persegi empat dan persegi enam. Bentuk segi empat panjangnya dari ½ cm-1 ½ cm dipasang pada bongkahan-bongkahan tebing, segienam ukuran panjangnya 2cm-5cm. Tali cok terbuat dari baja. Keuntungan menggunakan cok sebagai raner pada bongkahan-bongkahan batu ditebing adalah dapat dilepas kembali dengan menggunakan alat pembukanya.<br />
<em><strong>10) Figure of eight</strong></em><em> </em>Digunakan pada biley/ rappelin<br />
<em><strong>11) Glops</strong></em><br />
Sarung tangan yang biasa dipakai oleh biley/ rappeling untuk menghindari gesekan langsung ke tali.</p>
<p><em><strong>12) Helmet</strong></em><br />
Helmet digunakan sebagai pelindung kepala climber<br />
<em><strong>13) Chock Bag</strong></em><br />
Digunakan sebagai pengemas chock(magnesium) yang fungsinya untuk tangan dan kaki agar tidak licin ssat memanjat.<br />
<em><strong>14) Stik Plan</strong></em><br />
Digunakan sebagai duscander untuk menuruni tebing umumnya terbuat dari alumunium<br />
<em><strong>15) Rock Bandering</strong></em><br />
Pada zaman dahulu sering digunakan untuk mengemas peralatan panjat, tapi sekarang sudah tidak dipakai karena telah ditemukan harness untuk membawa peralatan panjat.<br />
<em><strong>16) Ascander</strong></em><br />
Ascander digunakan untuk naik diudara(bukan pada tebing) dapat juga digunakan untuk menaiki tebing yang posisinya vertical.</p>
<p><em> </em></p>
<p><em><strong>17) Discander</strong></em><br />
Discander digunakan untuk turun dengan menggunakan tali bukan pada tebing.<br />
<em><strong>18) Pulley</strong></em><br />
Pulley digunakan untuk mengangkat peralatan dari bawah kepuncak tebing, bentuknya seperti katrol kecil dan terbuat dari campuran beton dan alumunium.<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>2.4 TEKNIK PEMANJATAN</strong><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><em><strong>A. Kategori pemanjatan berdasarkan kondisi permukaan tebing:</strong></em><strong> </strong></p>
<p>Face climbing<br />
Fristion Climbing<br />
Fissure Climbing</p>
<h4>B. Tumpuan</h4>
<p>Tumpuan tangan<br />
Tumpuan kaki</p>
<h4>C. Gerakan</h4>
<p>1. pemilihan jalur</p>
<p>2. keseimbangan dan koordinasi<br />
3. penyesuaian tubuh terhadap tumpuan<br />
4. penghematan energi dan istirahat<br />
5. Traversing<br />
6. janning, crack climbing, cinney</p>
<p>7. mantlehelp</p>
<p>8. ‘ v ‘ dan operhang<br />
9. climbing down</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>2.5 BILEY</strong><br />
Biley adalah orang yang menentukan keselamatan dari climber oleh karena itu seorang biley harus berkonsentrasi penuh untuk menghindari kecelakaan pada climber. Maka dari itu dibutuhkan komunikasi dan kekompakan yang baik antara climber dan biley.<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>2.6 TEKNIK PEMASANGAN</strong><br />
Dalam pemasangan instalasi climbing, tali tidak boleh terkena / tergesek tebing langsung karena dapat merusak tali oleh karena itu diperlukan carabiner da slink untuk mengikat tali. Pemasangannya harus tepat dan benar untuk menghindari kecelakaan dan untuk memberikan rasa aman, nyaman pada saat pemanjatan.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/licinpisan.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/licinpisan.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/licinpisan.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/licinpisan.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/licinpisan.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/licinpisan.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/licinpisan.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/licinpisan.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/licinpisan.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/licinpisan.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/licinpisan.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/licinpisan.wordpress.com/16/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/licinpisan.wordpress.com/16/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/licinpisan.wordpress.com/16/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=licinpisan.wordpress.com&amp;blog=13934866&amp;post=16&amp;subd=licinpisan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://licinpisan.wordpress.com/2010/05/30/materi-panjat-tebing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/66a5e99c4e95b19efeb7bf86d4ca3525?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">licinpisan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Materi Dasar Rafting</title>
		<link>http://licinpisan.wordpress.com/2010/05/30/materi-pre-basic-rafting-adventure-team/</link>
		<comments>http://licinpisan.wordpress.com/2010/05/30/materi-pre-basic-rafting-adventure-team/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 May 2010 10:49:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Suhex Reccurence</dc:creator>
				<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Rafting]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://licinpisan.wordpress.com/?p=14</guid>
		<description><![CDATA[Materi Dasar Rafting I.Pendahuluan Arung jeram atau rafting adalah kegiatan yang memadukan unsur olahraga, rekreasi, petualangan dan edukasi. Memang tak ada persyaratan khusus untuk mengikuti kegiatan ini, karena hampir semua orang dapat mencobanya. Mulai dari anak-anak, remaja sampai dewasa, bahkan orang tua yang berumur 60 tahun sekalipun. Tidak memiliki kemampuan berenang pun bukan menjadi hambatan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=licinpisan.wordpress.com&amp;blog=13934866&amp;post=14&amp;subd=licinpisan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3><span id="more-14"></span><span style="color:#333399;">Materi Dasar Rafting</span></h3>
<p><span style="color:#333399;">I.Pendahuluan</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Arung jeram atau rafting adalah kegiatan yang memadukan unsur olahraga, rekreasi, petualangan dan edukasi. Memang tak ada persyaratan khusus untuk mengikuti kegiatan ini, karena hampir semua orang dapat mencobanya. Mulai dari anak-anak, remaja sampai dewasa, bahkan orang tua yang berumur 60 tahun sekalipun. Tidak memiliki kemampuan berenang pun bukan menjadi hambatan untuk mengikuti kegiatan arung jeram. Yang anda perlukan hanya kondisi fisik yang prima dan reservasi 2 minggu sebelum kegiatan.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Guna menunjang kegiatan kita bersama kawan, agar kegiatan arung jeram yang akan anda ikuti lebih berkesan dan penuh makna, berikut kami sampaikan Panduan Kegiatan Arung Jeram.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">I.Pendahuluan</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Arung jeram atau rafting adalah kegiatan yang memadukan unsur olahraga, rekreasi, petualangan dan edukasi. Memang tak ada persyaratan khusus untuk mengikuti kegiatan ini, karena hampir semua orang dapat mencobanya. Mulai dari anak-anak, remaja sampai dewasa, bahkan orang tua yang berumur 60 tahun sekalipun. Tidak memiliki kemampuan berenang pun bukan menjadi hambatan untuk mengikuti kegiatan arung jeram. Yang anda perlukan hanya kondisi fisik yang prima dan reservasi 2 minggu sebelum kegiatan.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Guna menunjang kegiatan kita bersama kawan, agar kegiatan arung jeram yang akan anda ikuti lebih berkesan dan penuh makna, berikut kami sampaikan Panduan Kegiatan Arung Jeram.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">II. Perlatan Arung Jeram</span></p>
<p><span style="color:#333399;">A. Riverboats (Perahu)</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Bagian-bagian yang terdapat pada perahu :</span></p>
<p><span style="color:#333399;">1. Bow and Stern</span></p>
<p><span style="color:#333399;">2. Chamber atau biasa disebut tube</span></p>
<p><span style="color:#333399;">3. Floor</span></p>
<p><span style="color:#333399;">4. Thwart</span></p>
<p><span style="color:#333399;">5. Boat line (tali kapal)</span></p>
<p><span style="color:#333399;">6. D Ring</span></p>
<p><span style="color:#333399;">7. Handling Grip</span></p>
<p><span style="color:#333399;">8. Bilge Hole/self bailing</span></p>
<p><span style="color:#333399;">9. Valve</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Cara duduk di perahu berbeda dengan cara duduk di kursi, yaitu dengan menyamping. Peserta duduk pada sisi perahu (baik sisi kiri maupun sisi kanan) dan kaki dalam posisi kuda-kuda pada lantai perahu. Posisi kuda-kuda ini dimaksudkan sebagai pengatur keseimbangan badan selama anda mengikuti pengarungan. Saat duduk di perahu , perhatikan jangan sampai ada bagian tubuh anda yang terikat atau terlilit tali. Ini sangat berbahaya jika perahu mengalami flip atau terbalik. Posisi duduk anda pun harus mudah untuk menggapai boat line.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Bila boat line pada perahu anda terlihat kendur, beritahukan segera pada skipper anda untuk mengencangkan boat line tersebut agar tidak mengganggu selama pengarungan.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Aturlah jarak duduk anda dengan peserta yang lain agar tidak mengganggu pergerakan selama pengarungan, baik untuk mendayung maupun saat menjalankan instruksi ‘moving position atau perpindahan’.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">B. PFD (Personal Floating Device) / Life Jackets (Pelampung)</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Seperti perahu, PFD atau pelampung memiliki berbagai jenis dan ukuran. Terbuat dari bahan polyfoam yang dibungkus dengan bahan kedap air yang berwarna terang. US Coastal Guard menganjurkan memakai PFD type III pada setiap kegiatan arung jeram, dan ini digunakan pula oleh para rafter dalam setiap pengarungannya.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Setiap PFD Type III ini memiliki daya apung tinggi, yang dihitung berdasarkan berat tubuh rata-rata saat berada didalam air sehingga anda tidak perlu takut tenggelam saat berada didalam air.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Cara pemakaian PFD/Pelampung :</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Pilihlah PFD yang berwarna cerah, pastikan tidak ada lubang atau jahitan yang terlepas pada PFD tersebut, serta strap yang ada dapat dipasang dan dilepas dengan mudah. Bila bagian perut anda lebih besar dari bagian dada, pilih dan pakailah PFD dengan ukuran lebih besar.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">PFD atau pelampung dipakai seperti menggunakan rompi/jaket. Pastikan setaip strap terpasang dengan benar dan bantalan kepala berada di luar. Atur ke-eratan tali senyaman mungkin, sehingga PFD yang anda gunakan tidak terlalu sempit atau longgar.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Setelah anda selesai memakai PFD, lakukan gerakan berikut :</span></p>
<p><span style="color:#333399;">i. Pada posisi berdiri, putarkan badan anda kekiri dan kekanan. Pastikan PFD yang digunakan tidak menghambat gerak tubuh anda dan tidak mengalami pergeseran/perubahan posisi. Ini ditandai dengan letak strap tetap pada 1 garis tegak lurus seperti posisi kancing kemeja. Jika terjadi pegeseran, atur kembali ke-eratan tali pada setiap strap yang ada. Jangan malu dan ragu untuk minta skipper/rekan anda membantu mengatur ke-eratan tali strap ini.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">ii. Pada posisi duduk dan kedua kaki diluruskan kedepan, putarkan badan anda kekiri dan kekanan lalu lakukan gerakan membungkuk. Pastikan PFD yang digunakan tidak menghambat gerak tubuh anda. Jika terjadi pegeseran, atur kembali ke-eratan setiap strap yang ada.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">iii. Masih dalam posisi duduk dan kedua kaki diluruskan kedepan, minta bantuan skipper/rekan anda untuk menarik/mengangkat pelampung yang anda gunakan pada bagian bahu dari arah belakang. Pastikan saat pelampung dan tubuh anda ditarik/diangkat, posisi bahu pelampung tidak melebihi batas telinga anda. Jika ya, atur kembali ke-eratan setiap strap yang ada.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">C. Paddle (Dayung)</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Setiap dayung terdiri dari 3 bagian, yaitu :</span></p>
<p><span style="color:#333399;">1) Pegangan, berbentuk huruf T, biasa disebut T grip.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">2) Gagang, terbuat dari bahan alumunium.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">3) Blade/bilah, terbuat dari bahan fiber dilapisi serat karbon yang ringan dan kuat. Namun ada pula yang terbuat dari bahan campuran plastik.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Cara memegang dayung :</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Memegang dayung dalam kegiatan arung jeram mirip dengan cara memegang sapu. Yang membedakannya hanya pegangan pada bagian T Grip. T-grip digenggam dengan 4 jari pada bagian atas pada bagian T horisontal (dayung dalam posisi berdiri dan bagian bilah berada dibawah), sementara jari jempol menjepit bagian T horisontal dari bagian bawah bawah. Cara memegang ini sama untuk tangan kiri (peserta yang duduk pada bagian kanan perahu) maupun tangan kanan (peserta yang duduk pada bagian kiri perahu).</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Lengan yang lain menggenggam bagian gagang, berjarak lebih kurang 1 jengkal dari bilah dayung, jangan terlalu dekat/rendah ataupun terlalu jauh/tinggi. Biasakan diri anda dengan cara memegang dayung ini, baik dengan tangan kanan maupun dengan tangan kiri, lakukan pemanasan dengan menggunakan dayung bersama rekan-rekan anda.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">D. Helm</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Pilihlah helm yang akan anda gunakan sesuai dengan ukuran kepala anda. Pastikan tidak ada keretakan pada helm tersebut serta semua tali dan strap masih dalam kondisi yang baik.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Pakailah helm seperti pemakaian helm umumnya. Atur strap senyaman mungkin, jangan terlalu sempit atau terlalu longgar agar tidak mengganggu pandangan anda selama pengarungan. Sekali lagi, pastikan strap sudah terpasang dan pada posisi yang benar.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">III. Paddle Command (Instruksi yang diberikan oleh skipper dalam pengarungan)</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Setelah anda terbiasa dengan cara memegang dayung, anda akan diberikan instruksi cara menggunakan dayung tersebut. Instruksi ini disebut Paddle command. Prinsip dalam menggunakan dayung adalah tenaga disalurkan pada kedua lengan yang menggerakkan dayung untuk mengatur dan mengarahkan gerak perahu, dimana arah dayungan tersebut dibantu dengan gerakan badan, disesuaikan dengan tenaga yang diperlukan untuk mengatur dan mengarahkan gerak perahu.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Basic Paddle Technic, instruksi tentang teknik dasar mendayung, yaitu :</span></p>
<p><span style="color:#333399;">1) Forward (Maju)</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Instruksi yang diberikan untuk dayungan maju, dilakukan oleh seluruh peserta dengan menarik blade/bilah dayung yang berada didalam air kearah belakang searah perahu. Posisi blade/bilah dayung saat menyentuh air adalah tegak lurus terhadap permukaan atau mendekati 900 dan padasaat keluar dari air dayung diarahkan sejajar dengan permukaan terus berputar mendekati 900 hingga bilah dayung kembali menyentuh air.Dilakukan berulang-ulang sampai ada instruksi lanjutan.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">2) Backward (Mundur)</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Instruksi yang diberikan untuk dayungan mundur, dilakukan oleh seluruh peserta dengan menarik blade/bilah dayung yang berada didalam air kearah depan searah perahu. Posisi blade/bilah dayung saat menyentuh air adalah sejajar dengan permukaan air, begitupun saat keluar dari air dayung diarahkan sejajar dengan permukaan trus berputar hingga bilah dayung kembali menyentuh air. Dilakukan berulang-ulang sampai ada instruksi lanjutan.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">3) Turn Left (Belok Kiri)</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Instruksi yang diberikan untuk membelokkan perahu kearah kiri,dilakukan dengan dayungan maju oleh peserta yang duduk pada perahu bagian kanan, sementara peserta yang duduk pada perahu bagian kiri berada pada posisi stop mendayung.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Jika skipper merasa perlu untuk membelokkan perahu kekiri dengan cepat,maka posisi peserta yang duduk pada bagian kiri melakukan dayungan mundur.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Untuk memperjelas instruksi, biasanya skipper akan mengatakan kanan maju dan kiri mundur! Artinya peserta yang duduk pada bagian kanan melakukan dayungan maju, sementara peserta yang duduk pada bagian kiri melakukan dayungan mundur.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">4) Turn Right (Belok Kanan)</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Instruksi yang diberikan untuk membelokkan perahu kearah kanan, kebalikan dari instruksi turn left (belok kiri), dilakukan dengan dayungan maju oleh peserta yang duduk pada perahu bagian kiri,sementara peserta yang duduk pada perahu bagian kanan berada pada posisi stop mendayung.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Jika skipper merasa perlu untuk membelokkan perahu kekanan dengan cepat, maka posisi peserta yang duduk pada bagian kanan melakukan dayungan mundur.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Untuk memperjelas instruksi, biasanya skipper akan mengatakan kiri majudan kanan mundur! Artinya peserta yang duduk pada bagian kiri melakukan dayungan maju, sementara peserta yang duduk pada bagian kanan melakukan dayungan mundur.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">5) 5. Stop (Berhenti)</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Instruksi yang diberikan untuk menghentikan dayungan, dimana semua dayung tidak berada didalam air, di genggam dengan posisi berada diatas pangkuan.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">IV. Self Rescue</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Dalam kegiatan arung jeram, keselamatan setiap peserta adalah hal yang utama.Banyak faktor yang harus diperhatikan dalam melakukan kegiatan arung jeram ini. Namun tetap perlu disadari oleh setiap peserta bahwa kegiatan arung jeram ini tidak akan pernah lepas dari segala resiko dan bahaya, baik oleh faktor manusia, peralatan maupun faktor alam yang menyertainya. Tapi anda tidak perlu cemas, karena justru disinilah letak salah satu kegembiraan yang akan anda rasakan saat bermain-main dengan air.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Self rescue atau tindakan penyelamatan diri saat melakukan kegiatan arung jeram ini perlu anda cermati betul. Walau anda akan dipandu oleh skipper yang berpengalaman, namun skipper tersebut tetap memiliki keterbatasan. Sehingga hal terbaik yang harus anda lakukan adalah melakukan tindakan penyelamatan diri sebelum datang team rescue yangakan membantu anda.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Prinsip setiap tindakan penyelamatan dalam kegiatan arung jeram adalah menyelamatkan diri sendiri sebelum melakukan tindakan penyelamatan terhadap orang lain, dan si penyelamat harus benar-benar berada dalam kondisi yang aman dalam melakukan tindakan penyelamatan. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari resiko lainnya dan kemungkinan bertambahnya korban.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Berikut dijelaskan hal apa saja yang harus anda lakukan dalam self rescue.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Swimmer<br />
Swimmer adalah istilah yang digunakan oleh kalangan boater untuk menyebut orang yang terlempar keluar dari perahu saat berarung jeram. Jika anda belum pernah mengalaminya, percayalah suatu saat anda akan mengalaminya (Believe Me !!!). Bagi anda yang kali pertama melakukan kegiatan arungjeram, anda tidak perlu khawatir. Banyak peserta yang kali pertama mengikuti kegiatan arung jeram mengalami hal ini dan tidak terjadi apa-apa dengan mereka bahkan menjadi cerita menarik bagi rekan-rekannya dan menimbulkan kesan tersendiri bagi yang mengalami. Namun tidaksedikit pula peserta yang tidak mengalaminya dalam setiap kegiatan yang diikuti.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Hal pertama yang harus anda lakukan jika mengalami swimmer adalah JANGAN PANIK!!!</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Mengapa jangan panik? Karena jika terjadi kepanikan, anda tidak akan tahu apa yang harus anda lakukan untuk tindakan self rescue. Setelah anda dapat mengatasi rasa panik, selanjutnya anda harus menyadari dan mengetahui situasi disekeliling anda.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Teknik berenang di arus</span></p>
<p><span style="color:#333399;">a. Defensive swimming position</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Defensive swimming position adalah berenang mengikui arus dalam posisi terlentang. dengan kaki dalam keadaan rapat dan selalu berada diatas air untuk menghindari foot entrapment. Defensive swimming dilakukan pada arus yang deras dengan pandangan terarah kehilir. Gunakan tangan sebagai pengatur keseimbangan atau untuk menuju pinggiran sungai dan menghindari berbagai rintangan lainnya.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Ingat&#8230; walaupun tidak terjadi sesuatu selama anda melakukan defensive swimming dan anda mulai menikmatinya, tapi anda tidak dalam posisi yangbenar-benar aman. Berusahalah untuk menggapai tepian sungai dan segera keluar dari air. Jangan mencoba untuk berdiri meskipun pada daerah yang dangkal, sebelum anda mencapai tepian sungai atau berada pada arus yang cukup tenang.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">b.Aggressive swimming position</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Aggressive swimming position adalah berenang dengan cara melawan arus. Dilakukan pada arus yang relatif tenang dengan posisi menghadap ke hulu.Tujuannya untuk mendekati perahu penolong, menghindari strainer,sieves, undercut, dan untuk menyeberang kesisi tepian sungai yang laindengan cepat. Ingat Aggressive swimming ini hanya efektif dilakukan pada arus sungai yang relatif tenang. Jika anda lakukan hal ini pada arus yang deras tenaga anda akan terbuang percuma dan anda tetap terseret oleh arus yang deras.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Berikut ini beberapa pertanyaan yang dapat membantu anda mendefinisikan situasi disekeliling anda saat anda mengalami swimmer dan menentukan tindakan apa yang harus anda lakukan</span></p>
<p><span style="color:#333399;">* Apakah dibelakang anda terdapat perahu? (Baik perahu yang melemparkan anda ataupun perahu lain)</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Jika ya,berusahalah untuk mendekatinya dari arah samping pada arus yang relatif tenang dengan Aggressive swimming position, jangan lakukan dari arah depan karena anda dapat terseret oleh perahu tersebut. Jika telah dekat, gapai dan peganglah boat line yang ada pada perahu tersebut.Tunggu sampai rekan anda menarik dan menaikkan anda ke atas perahu kembali dengan cara menarik bahu pelampung yang anda kenakan.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Jika tidak, lakukan Aggressive swimming atau pun defensive swimming menuju tepian sungai.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">* Apakah didekat anda terdapat team rescue yang akan melemparkan throw bag/rescue rope pada anda?</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Jika ya,raih throw bag/rescue rope yang dilemparkan. Pegang erat pada bagiantali, jangan pada bagian kantong tali. Pegang dengan tetap melakukan teknik defensive swimming, sambil team rescue menarik anda ke tepian sungai.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Jika tidak, lakukan Aggressive swimming atau pun defensive swimming menuju tepian sungai.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">* Apakah di dekat anda terdapat rintangan atau obstacle? (Bebatuan, dahan/ranting atau pohon yang tumbang)</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Jika ya, hindari daerah tersebut baik dengan Aggressive swimming atau pun defensive swimming.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Jika tidak, lakukan Aggressive swimming atau pun defensive swimming menuju tepian sungai.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">* Apakah didekat anda terdapat under cut, strainer dan sieves?</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Jika ya, hindari daerah tersebut secepat mungkin dengan Aggressive swimming.<br />
Jika tidak, lakukan Aggressive swimming atau pun defensive swimming menuju tepian sungai.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">* Apakah anda berada di bawah perahu yang terbalik?</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Jika ya,segeralah keluar dari bawah perahu tersebut dengan cara menyelam kearah hulu atau ke samping, jangan menyelam ke arah hilir karena anda akan tetap terperangkap dibawah perahu.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Jika tidak, lakukan aggressive swimming atau pun defensive swimming menuju tepian sungai.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">* Apakah anda berada di dalam hole/hydraulic (Arus yang berputar-putar) ?</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Jika ya,lakukan aggressive swimming dengan mengikuti putaran arus kearah luar yang menuju hilir, atau dapat dilakukan dengan menyelam pada bagian tengah pusaran dengan posisi berdiri sampai kaki menyentuh dasar sungai, lalu tolakkan kaki anda sekuat mungkin ke arah hilir.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Jika tidak, lakukan aggressive swimming atau pun defensive swimming menuju tepian sungai.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">:: Klasifikasi Tingkat Kesulitan Sungai ::<br />
Tak disangsikan lagi, arung jeram telah menjadi suatu kegiatan yang sangat populer dibandingkan dengan kegiatan ke petualangan lainnya. Dapat dinikmati beramai-ramai tanpa memandang usia, status sosial, tingkat pendidikan dan profesi seseorang.<br />
Saat ini telah banyak sungai yang dapat diarungi serta dikelola secara profesional oleh beberapa operator arung jeram. Mereka menawarkan berbagai paket kegiatan dengan tingkatan umur dan kemampuan dari calon kunsumennya. Mulai dari sungai dengan tingkat kesulitan mudah sampai dengan sungai yang menjanjikan tantangan dan petualangan.<br />
Berikut penjelasan tentang tingkat kesulitan sungai :</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Class I</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Tingkat kesulitan sungai yang paling rendah, dengan arus yang bervariasi dari flat (datar) dan relatif tenang sampai sedikit beriak pada beberapa tempat. Rintangan yang ada pun sangat sedikit dan dapat terlihat jelas. Resiko berenang di sungai ini sangat rendah dan self-rescue sangat mudah dilakukan.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Class II</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Sungai dengan tingkat kesulitan rendah &#8211; menengah. Cocok untuk pemula, dengan sungai yang lebar dan arus yang cukup deras, lintasan pengarungan jelas sehingga tidak memerlukan pengamatan terlebih dahulu.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Sesekali manuver perahu perlu dilakukan, namun bebatuan dan jeram medium dapat dengan mudah dilewati oleh pengarung yang terlatih. Penumpang yang terlempar keluar perahu dan terhanyut jarang sekali mengalami cidera.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Pertolongan bantuan masih belum perlu. Sungai dengan tingkat kesulitan ini sangat cocok untuk latihan dasar kegiatan arung jeram.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Class III</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Sungai dengan tingkat kesulitan menengah, memiliki jeram yang mulai tidak beraturan dan cukup sulit serta dapat menenggelamkan perahu. Manuver-manuver pada arus yang deras serta kontrol perahu pada lintasan sempit sering diperlukan. Jeram-jeram besar dan &#8220;strainers&#8221; mungkin ada namun dapat dengan mudah dihindari. Pusaran arus yang kuat dan deras sering ditemukan, terutama pada sungai-sungai besar.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Cidera saat terlempar keluar perahu dan terhanyut masih sangat jarang; self-rescue biasanya masih mudah dilakukan namun pertolongan bantuan sudah mulai diperlukan untuk menghindari resiko yang mungkin terjadi. Sungai dengan tingkat kesulitan ini sangat cocok untuk kegiatan wisata keluarga atau sebagai rekreasi alternatif karena dapat diikuti oleh anak-anak yang berusia 9 tahun.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Class IV</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Sungai dengan tingkat kesulitan menengah &#8211; tinggi. Sungai ini memiliki arus yang sangat deras namun masih dapat diprediksi dengan pengendalian perahu yang tepat. Teknik pengarungan pada sungai ini sangat tergantung pada karakter sungai itu sendiri, karena sungai dengan tingkat kesulitan ini sangat beragam dan berbeda-beda walau memiliki tingkat kesulitan yang sama.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Jeram-jeram besar, hole dan lintasan sempit yang tidak dapat dihindari memerlukan manuver yang cepat. Berhenti sejenak pada arus yang sedikit tenang mungkin diperlukan sebelum memulai maneuvers sekedar mengamati arus atau untuk istirahat. Karena pada jeram-jeram tertentu, bahaya selalu mengancam.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Resiko cidera bagi penumpang yang hanyut cukup besar dan kondisi air menyebabkan self-rescue sulit dilakukan sehingga perlu pertolongan bantuan. Pertolongan bantuan tersebut memerlukan latihan khusus agar teknik penyelamatan dapat dilakukan dengan benar.<br />
Sungai dengan tingkat kesulitan ini sangat menyenangkan dan menjanjikan tantangan lebih, tentunya dengan dukungan peralatan yang memadai, pengetahuan yang cukup dan pemandu yang terampil.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Class V</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Sungai dengan tingkat kesulitan tinggi dan hanya cocok untuk pengarung jeram yang sudah menguasai teknik pengarungan dan memiliki pengalaman yang cukup pada sungai</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Class IV.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Sungai yang tergolong pada sungai class V memiliki jeram yang banyak dan panjang dengan berbagai rintangan yang dapat menyebabkan resiko tambahan bagi seorang pendayung. &#8220;Drops&#8221; atau penurunan yang tiba2, Jeram-jeram sulit, &#8220;hole&#8221; dan tebing terjal yang tidak dapat dihindari sampai dengan waterfall (air terjun) sering dijumpai pada sungai ini. Jeram yang dilewati sering kali beruntun pada jarak yang cukup panjang, sehingga membutuhkan ketahanan fisik yang tinggi. Kalaupun ada pusaran air yang tenang (eddies), jumlahnya sangat sedikit sekali dan cukup sulit untuk diraih. Pada skala tertinggi, Sungai dengan tingkat kesulitan ini memiliki kombinasi jeram yang sangat beragam, mulai dari curler, hair, hay stakes, headwall, strainer, under cut, wave train sampai dengan pin hole yang sangat berbahaya dan mematikan.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Terlempar keluar dari perahu pada sungai ini sangat berbahaya dan tindakan penyelamatan sering sulit dilakukan bahkan untuk seseorang yang mahir sekalipun. Peralatan yang tepat, pengalaman yang luas dan latihan keterampilan dalam penyelamatan sangat penting.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Class VI</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Sungai yang memiliki tingkat kesulitan tertinggi. Pengarungan di sungai ini hampir tidak mungkin dilakukan kerena jeram yang ada tidak dapat diprediksi dan sangat berbahaya. Konsekwensi dari suatu kesalahan dalam pengarungan disungai ini sangat berat serta tindakan penyelamatan hampir tidak mungkin. Sungai dengan tingkat kesulitan ini hanya untuk tim khusus yang memiliki keahlian tinggi -bukan untuk diarungi perorangan- setelah sering kali melakukan pengarungan pada sungai dengan tingkat kesulitan class V.<br />
Klasifikasi tingkat kesulitan sungai diatas merupakan tingkat kesulitan sungai yang ditetapkan secara internasional. Namun klasifikasi ini masih sangat variatif dan dapat berubah-ubah walau masih pada sungai yang sama, karena tingkat kesulitan ini sangat tergantung pada debit air dan kemiringan sungai. Sehingga pada waktu-waktu tertentu sungai-sungai tersebut memiliki tingkat kesulitan yang mungkin bertambah atau mungkin berkurang.<br />
Karena itu oleh kalangan penggiat arung jeram dibelakang Class sungai sering ditambah dengan tanda + (plus). Misalnya sungai Citarik memiliki tingkat kesulitan III+ artinya pada jeram-jeram tertentu sungai citarik memiliki tingkat kesulitan yang setara dengan sungai Class IV.</span></p>
<p><span style="color:#333399;">Simkuring di dieu mung hoyong ngabejaan batur,,,  sumber asli na tina ; www.google.com</span></p>
<p><span style="color:#333399;">hapunten pisan ka penulis bilih teu raos manah* <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/licinpisan.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/licinpisan.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/licinpisan.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/licinpisan.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/licinpisan.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/licinpisan.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/licinpisan.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/licinpisan.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/licinpisan.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/licinpisan.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/licinpisan.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/licinpisan.wordpress.com/14/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/licinpisan.wordpress.com/14/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/licinpisan.wordpress.com/14/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=licinpisan.wordpress.com&amp;blog=13934866&amp;post=14&amp;subd=licinpisan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://licinpisan.wordpress.com/2010/05/30/materi-pre-basic-rafting-adventure-team/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/66a5e99c4e95b19efeb7bf86d4ca3525?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">licinpisan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pengetahuan Dasar Navigasi Darat</title>
		<link>http://licinpisan.wordpress.com/2010/05/30/pengetahuan_dasar_navigasi_darat/</link>
		<comments>http://licinpisan.wordpress.com/2010/05/30/pengetahuan_dasar_navigasi_darat/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 May 2010 10:24:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Suhex Reccurence</dc:creator>
				<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Pengetahuan Dasar Navigasi Darat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://licinpisan.wordpress.com/?p=12</guid>
		<description><![CDATA[Navigasi darat adalah ilmu praktis. Kemampuan bernavigasi dapat terasah jika sering berlatih. Pemahaman teori dan konsep hanyalah faktor yang membantu, dan tidak menjamin jika mengetahui teorinya secara lengkap, maka kemampuan navigasinya menjadi tinggi. Bahkan seorang jago navigasi yang tidak pernah berlatih dalam jangka waktu lama, dapat mengurangi kepekaannya dalam menerjemahkan tanda-tanda di peta ke medan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=licinpisan.wordpress.com&amp;blog=13934866&amp;post=12&amp;subd=licinpisan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h3><span style="font-weight:normal;font-size:13px;"><em><span id="more-12"></span>Navigasi darat adalah ilmu praktis. Kemampuan bernavigasi dapat terasah jika sering berlatih. Pemahaman teori dan konsep hanyalah faktor yang membantu, dan tidak menjamin jika mengetahui teorinya secara lengkap, maka kemampuan navigasinya menjadi tinggi. Bahkan seorang jago navigasi yang tidak pernah berlatih dalam jangka waktu lama, dapat mengurangi kepekaannya dalam menerjemahkan tanda-tanda di peta ke medan sebenarnya, atau menerjemahkan tanda-tanda medan ke dalam peta. Untuk itu, latihan sesering mungkin akan membantu kita untuk dapat mengasah kepekaan, dan pada akhirnya navigasi darat yang telah kita pelajari menjadi bermanfaat untuk kita.</em></span></h3>
<p><em>Pada prinsipnya navigasi adalah cara menentukan arah dan posisi, yaitu arah yang akan dituju dan posisi keberadaan navigator berada dimedan sebenarnya yang di proyeksikan pada peta.</em></p>
<p><em>Beberapa media dasar navigasi darat adalah :</em></p>
<p><em>Peta</em></p>
<p><em>Peta adalah penggambaran dua dimensi (pada bidang datar) dari sebagian atau keseluruhan permukaan bumi yang dilihat dari atas, kemudian diperbesar atau diperkecil dengan perbandingan tertentu. Dalam navigasi darat digunakan peta topografi. Peta ini memetakan tempat-tempat dipermukaan bumi yang berketinggian sama dari permukaan laut menjadi bentuk garis kontur.</em></p>
<p><em>Beberapa unsur yang bisa dilihat dalam peta :</em></p>
<ul>
<li><em>Judul peta; biasanya terdapat di atas, menunjukkan letak peta </em></li>
<li><em>Nomor peta; selain sebagai nomor registrasi dari badan pembuat, kita bisa menggunakannya sebagai petunjuk jika kelak kita akan mencari sebuah peta</em></li>
<li><em>Koordinat peta; penjelasannya dapat dilihat dalam sub berikutnya </em></li>
<li><em>Kontur; adalah merupakan garis khayal yang menghubungkan titik titik yang berketinggian sama diatas permukaan laut. </em></li>
<li><em>Skala peta; adalah perbandingan antara jarak peta dan jarak horizontal dilapangan. Ada dua macam skala yakni skala angka (ditunjukkan dalam angka, misalkan 1:25.000, satu senti dipeta sama dengan 25.000 cm atau 250 meter di keadaan yang sebenarnya), dan skala garis (biasanya di peta skala garis berada dibawah skala angka). </em></li>
<li><em>Legenda peta ; adalah simbol-simbol yang dipakai dalam peta tersebut, dibuat untuk memudahkan pembaca menganalisa peta. </em></li>
</ul>
<p><em>Di Indonesia, peta yang lazim digunakan adalah peta keluaran Direktorat Geologi Bandung, lalu peta dari Jawatan Topologi, yang sering disebut sebagai peta AMS (American Map Service) dibuat oleh Amerika dan rata-rata dikeluarkan pada tahun 1960.</em></p>
<p><em>Peta AMS biasanya berskala 1:50.000 dengan interval kontur (jarak antar kontur) 25 m. Selain itu ada peta keluaran Bakosurtanal (Badan Koordinasi Survey dan Pemetaan Nasional) yang lebih baru, dengan skala 1:50.000 atau 1:25.000 (dengan interval kontur 12,5 m). Peta keluaran Bakosurtanal biasanya berwarna.</em></p>
<p><em>Koordinat</em></p>
<p><em>Peta Topografi selalu dibagi dalam kotak-kotak untuk membantu menentukan posisi dipeta dalam hitungan koordinat. Koordinat adalah kedudukan suatu titik pada peta. Secara teori, koordinat merupakan titik pertemuan antara absis dan ordinat. Koordinat ditentukan dengan menggunakan sistem sumbu, yakni perpotongan antara garis-garis yang tegak lurus satu sama lain. Sistem koordinat yang resmi dipakai ada dua macam yaitu : </em></p>
<ol>
<li><em>Koordinat Geografis (Geographical Coordinate) ; Sumbu yang digunakan adalah garis bujur (bujur barat dan bujur timur) yang tegak lurus dengan garis khatulistiwa, dan garis lintang (lintang utara dan lintang selatan) yang sejajar dengan garis khatulistiwa. Koordinat geografis dinyatakan dalam satuan derajat, menit dan detik. Pada peta Bakosurtanal, biasanya menggunakan koordinat geografis sebagai koordinat utama. Pada peta ini, satu kotak (atau sering disebut satu karvak) lebarnya adalah 3.7 cm. Pada skala 1:25.000, satu karvak sama dengan 30 detik (30″), dan pada peta skala 1:50.000, satu karvak sama dengan 1 menit (60″).</em></li>
<li><em>Koordinat Grid (Grid Coordinate atau UTM) ; Dalam koordinat grid, kedudukan suatu titik dinyatakan dalam ukuran jarak setiap titik acuan. Untuk wilayah Indonesia, titik acuan berada disebelah barat Jakarta (60 LU, 980 BT). Garis vertikal diberi nomor urut dari selatan ke utara, sedangkan horizontal dari barat ke timur. Sistem koordinat mengenal penomoran 4 angka, 6 angka dan 8 angka. Pada peta AMS, biasanya menggunakan koordinat grid. Satu karvak sebanding dengan 2 cm. Karena itu untuk penentuan koordinat koordinat grid 4 angka, dapat langsung ditentukan. Penentuan koordinat grid 6 angka, satu karvak dibagi terlebih dahulu menjadi 10 bagian (per 2 mm). Sedangkan penentuan koordinat grid 8 angka dibagi menjadi sepuluh bagian (per 1 mm).</em></li>
</ol>
<p><em>Analisa Peta</em></p>
<p><em>Salah satu faktor yang sangat penting dalam navigasi darat adalah analisa peta. Dengan satu peta, kita diharapkan dapat memperoleh informasi sebanyak-banyaknya tentang keadaan medan sebenarnya, meskipun kita belum pernah mendatangi daerah di peta tersebut.</em></p>
<ol>
<li><em>Unsur dasar peta ; Untuk dapat menggali informasi sebanyak-banyaknya, pertama kali kita harus cek informasi dasar di peta tersebut, seperti judul peta, tahun peta itu dibuat, legenda peta dan sebagainya. Disamping itu juga bisa dianalisa ketinggian suatu titik (berdasarkan pemahaman tentang kontur), sehingga bisa diperkirakan cuaca, dan vegetasinya.</em></li>
<li><em>Mengenal tanda medan ; Disamping tanda pengenal yang terdapat dalam legenda peta, kita dapat menganalisa peta topografi berdasarkan bentuk kontur. Beberapa ciri kontur yang perlu dipahami sebelum menganalisa tanda medan :</em></li>
</ol>
<ul>
<li><em>Antara garis kontur satu dengan yang lainnya tidak pernah saling berpotongan </em></li>
<li><em>Garis yang berketinggian lebih rendah selalu mengelilingi garis yang berketinggian lebih tinggi, kecuali diberi keterangan secara khusus, misalnya kawah </em></li>
<li><em>Beda ketinggian antar kontur adalah tetap meskipun kerapatan berubah-ubah </em></li>
<li><em>Daerah datar mempunyai kontur jarang-jarang sedangkan daerah terjal mempunyai kontur rapat.</em></li>
<li><em>Beberapa tanda medan yang dapat dikenal dalam peta topografi:</em></li>
</ul>
<ol>
<li><em>Puncak bukit atau gunung biasanya berbentuk lingkaran kecil, tertelak ditengah-tengah lingkaran kontur lainnya. </em></li>
<li><em>Punggungan terlihat sebagai rangkaian kontur berbentuk U yang ujungnya melengkung menjauhi puncak </em></li>
<li><em>Lembahan terlihat sebagai rangkaian kontur berbentuk V yang ujungnya tajam menjorok kepuncak. Kontur lembahan biasanya rapat. </em></li>
<li><em>Saddle, daerah rendah dan sempit diantara dua ketinggian </em></li>
<li><em>Pass, merupakan celah memanjang yang membelah suatu ketinggian </em></li>
<li><em>Sungai, terlihat dipeta sebagai garis yang memotong rangkaian kontur, biasanya ada di lembahan, dan namanya tertera mengikuti alur sungai. Dalam membaca alur sungai ini harap diperhatikan lembahan curam, kelokan-kelokan dan arah aliran. </em></li>
<li><em>Bila peta daerah pantai, muara sungai merupakan tanda medan yang sangat jelas, begitu pula pulau-pulau kecil, tanjung dan teluk </em></li>
<li><em>Pengertian akan tanda medan ini mutlak diperlukan, sebagai asumsi awal dalam menyusun perencanaan perjalanan</em></li>
</ol>
<p><em>Kompas</em></p>
<p><em>Kompas adalah alat penunjuk arah, dan karena sifat magnetnya, jarumnya akan selalu menunjuk arah utara-selatan (meskipun utara yang dimaksud disini bukan utara yang sebenarnya, tapi utara magnetis). Secara fisik, kompas terdiri dari :</em></p>
<ul>
<li><em>Badan, tempat komponen lainnya berada </em></li>
<li><em>Jarum, selalu menunjuk arah utara selatan, dengan catatan tidak dekat dengan megnet lain/tidak dipengaruhi medan magnet, dan pergerakan jarum tidak terganggu/peta dalam posisi horizontal. </em></li>
<li><em>Skala penunjuk, merupakan pembagian derajat sistem mata angin. </em></li>
</ul>
<p><em>Jenis kompas yang biasa digunakan dalam navigasi darat ada dua macam yakni kompas bidik (misal kompas prisma) dan kompas orienteering (misal kompas silva, suunto dll). Untuk membidik suatu titik, kompas bidik jika digunakan secara benar lebih akurat dari kompas silva. Namun untuk pergerakan dan kemudahan ploting peta, kompas orienteering lebih handal dan efisien.</em></p>
<p><em>Dalam memilih kompas, harus berdasarkan penggunaannya. Namun secara umum, kompas yang baik adalah kompas yang jarumnya dapat menunjukkan arah utara secara konsisten dan tidak bergoyang-goyang dalam waktu lama. Bahan dari badan kompas pun perlu diperhatikan harus dari bahan yang kuat/tahan banting mengingat kompas merupakan salah satu unsur vital dalam navigasi darat</em></p>
<p><em>Cttn: saat ini sudah banyak digunakan GPS [global positioning system] dengan tehnologi satelite untuk mengantikan beberapa fungsi kompas.</em></p>
<p><em>Orientasi Peta</em></p>
<p><em>Orientasi peta adalah menyamakan kedudukan peta dengan medan sebenarnya (atau dengan kata lain menyamakan utara peta dengan utara sebenarnya). Sebelum anda mulai orientasi peta, usahakan untuk mengenal dulu tanda-tanda medan sekitar yang menyolok dan posisinya di peta. Hal ini dapat dilakukan dengan pencocokan nama puncakan, nama sungai, desa dll. Jadi minimal anda tahu secara kasar posisi anda dimana. Orientasi peta ini hanya berfungsi untuk meyakinkan anda bahwa perkiraan posisi anda dipeta adalah benar. Langkah-langkah orientasi peta:</em></p>
<ol>
<li><em>Usahakan untuk mencari tempat yang berpemandangan terbuka agar dapat melihat tanda-tanda medan yang menyolok. </em></li>
<li><em>Siapkan kompas dan peta anda, letakkan pada bidang datar </em></li>
<li><em>Utarakan peta, dengan berpatokan pada kompas, sehingga arah peta sesuai dengan arah medan sebenarnya </em></li>
<li><em>Cari tanda-tanda medan yang paling menonjol disekitar anda, dan temukan tanda-tanda medan tersebut di peta. Lakukan hal ini untuk beberapa tanda medan </em></li>
<li><em>Ingat tanda-tanda itu, bentuknya dan tempatnya di medan yang sebenarnya. Ingat hal-hal khas dari tanda medan. </em></li>
</ol>
<p><em>Jika anda sudah lakukan itu semua, maka anda sudah mempunyai perkiraan secara kasar, dimana posisi anda di peta. Untuk memastikan posisi anda secara akurat, dipakailah metode resection.</em></p>
<p><em>Resection</em></p>
<p><em>Prinsip resection adalah menentukan posisi kita dipeta dengan menggunakan dua atau lebih tanda medan yang dikenali. Teknik ini paling tidak membutuhkan dua tanda medan yang terlihat jelas dalam peta dan dapat dibidik pada medan sebenarnya (untuk latihan resection biasanya dilakukan dimedan terbuka seperti kebun teh misalnya, agar tanda medan yang ekstrim terlihat dengan jelas).</em></p>
<p><em>Tidak setiap tanda medan harus dibidik, minimal dua, tapi posisinya sudah pasti.</em><br />
<em>Langkah-langkah melakukan resection:</em></p>
<ol>
<li><em>Lakukan orientasi peta</em></li>
<li><em>Cari tanda medan yang mudah dikenali di lapangan dan di peta, minimal 2 buah</em></li>
<li><em>Dengan busur dan penggaris, buat salib sumbu pada tanda-tanda medan tersebut (untuk alat tulis paling ideal menggunakan pensil mekanik-B2).</em></li>
<li><em>Bidik tanda-tanda medan tersebut dari posisi kita dengan menggunakan kompas bidik. Kompas orienteering dapat digunakan, namun kurang akurat.</em></li>
<li><em>Pindahkan sudut back azimuth bidikan yang didapat ke peta dan hitung sudut pelurusnya. Lakukan ini pada setiap tanda medan yang dijadikan sebagai titik acuan.</em></li>
<li><em>Perpotongan garis yang ditarik dari sudut-sudut pelurus tersebut adalah posisi kita dipeta.</em></li>
</ol>
<p><em>Intersection</em></p>
<p><em>Prinsip intersection adalah menentukan posisi suatu titik (benda) di peta dengan menggunakan dua atau lebih tanda medan yang dikenali di lapangan. Intersection digunakan untuk mengetahui atau memastikan posisi suatu benda yang terlihat dilapangan tetapi sukar untuk dicapai atau tidak diketahui posisinya di peta. Syaratnya, sebelum intersection kita sudah harus yakin terlebih dahulu posisi kita dipeta. Biasanya sebelum intersection, kita sudah melakukan resection terlebih dahulu.</em></p>
<p><em>Langkah-langkah melakukan intersection adalah:</em></p>
<ol>
<li><em>Lakukan orientasi peta</em></li>
<li><em>Lakukan resection untuk memastikan posisi kita di peta.</em></li>
<li><em>Bidik obyek yang kita amati</em></li>
<li><em>Pindahkan sudut yang didapat ke dalam peta</em></li>
<li><em>Bergerak ke posisi lain dan pastikan posisi tersebut di peta. Lakukan langkah 1-3</em></li>
<li><em>Perpotongan garis perpanjangan dari dua sudut yang didapat adalah posisi obyek yang dimaksud.</em></li>
</ol>
<p><em>Azimuth &#8211; Back Azimuth</em></p>
<p><em>Azimuth adalah sudut antara satu titik dengan arah utara dari seorang pengamat. Azimuth disebut juga sudut kompas. Jika anda membidik sebuah tanda medan, dan memperolah sudutnya, maka sudut itu juga bisa dinamakan sebagai azimuth. Kebalikannya adalah back azimuth. Dalam resection back azimuth diperoleh dengan cara:</em></p>
<ul>
<li><em>Jika azimuth yang kita peroleh lebih dari 180º maka back azimuth adalah azimuth dikurangi 180º. Misal anda membidik tanda medan, diperoleh azimuth 200º. Back azimuthnya adalah 200º- 180º = 20º</em></li>
<li><em>Jika azimuth yang kita peroleh kurang dari 180º, maka back azimuthnya adalah 180º ditambah azimuth. Misalkan, dari bidikan terhadap sebuah puncak, diperoleh azimuth 160º, maka back azimuthnya adalah 180º+160º = 340º</em></li>
</ul>
<p><em>Dengan mengetahui azimuth dan back azimuth ini, memudahkan kita untuk dapat melakukan ploting peta (penarikan garis lurus di peta berdasarkan sudut bidikan). Selain itu sudut kompas dan back azimuth ini dipakai dalam metode pergerakan sudut kompas (lurus/ man to man-biasa digunakan untuk “Kompas Bintang”). Prinsipnya membuat lintasan berada pada satu garis lurus dengan cara membidikaan kompas ke depan dan ke belakang pada jarak tertentu.</em></p>
<p><em>Langkah-langkahnya adalah sebagai berikut:</em></p>
<ol>
<li><em>Titik awal dan titik akhir perjalanan di plot di peta, tarik garis lurus dan hitung sudut yang menjadi arah perjalanan (sudut kompas). Hitung pula sudut dari titik akhir ke titik awal. Sudut ini dinamakan back azimuth.</em></li>
<li><em>Perhatikan tanda medan yang menyolok pada titik awal perjalanan. Perhatikan tanda medan lain pada lintasan yang dilalui.</em></li>
<li><em>Bidikkan kompas seusai dengan arah perjalanan kita, dan tentukan tanda medan lain di ujung lintasan/titik bidik. Sudut bidikan ini dinamakan azimuth.</em></li>
<li><em>Pergi ke tanda medan di ujung lintasan, dan bidik kembali ke titik pertama tadi, untuk mengecek apakah arah perjalanan sudah sesuai dengan sudut kompas (back azimuth).</em></li>
<li><em>Sering terjadi tidak ada benda/tanda medan tertentu yang dapat dijadikan sebagai sasaran. Untuk itu dapat dibantu oleh seorang rekan sebagai tanda. Sistem pergerakan semacam ini sering disebut sebagai sistem man to man.</em></li>
</ol>
<p><em>Merencanakan Jalur Lintasan</em></p>
<p><em>Dalam navigasi darat tingkat lanjut, kita diharapkan dapat menyusun perencanaan jalur lintasan dalam sebuah medan perjalanan. Sebagai contoh anda misalnya ingin pergi ke suatu gunung, tapi dengan menggunakan jalur sendiri.</em></p>
<p><em>Penyusunan jalur ini dibutuhkan kepekaan yang tinggi, dalam menafsirkan sebuah peta topografi, mengumpulkan data dan informasi dan mengolahnya sehingga anda dapat menyusun sebuah perencanaan perjalanan yang matang. Dalam proses perjalanan secara keseluruhan, mulai dari transportasi sampai pembiayaan, disini kita akan membahas khusus tentang perencanaan pembuatan medan lintasan. Ada beberapa hal yang dapat dijadikan bahan pertimbangan sebelum anda memplot jalur lintasan.</em></p>
<p><em>Pertama, anda harus membekali dulu kemampuan untuk membaca peta, kemampuan untuk menafsirkan tanda-tanda medan yang tertera di peta, dan kemampuan dasar navigasi darat lain seperti resection, intersection, azimuth back azimuth, pengetahuan tentang peta kompas, dan sebagainya, minimal sebagaimana yang tercantum dalam bagian sebelum ini.</em></p>
<p><em>Kedua, selain informasi yang tertera dipeta, akan lebih membantu dalam perencanaan jika anda punya informasi tambahan lain tentang medan lintasan yang akan anda plot. Misalnya keterangan rekan yang pernah melewati medan tersebut, kondisi medan, vegetasi dan airnya. Semakin banyak informasi awal yang anda dapat, semakin matang rencana anda.</em></p>
<p><em>Tentang jalurnya sendiri, ada beberapa macam jalur lintasan yang akan kita buat. Pertama adalah tipe garis lurus, yakni jalur lintasan berupa garis yang ditarik lurus antara titik awal dan titik akhir. Kedua, tipe garis lurus dengan titik belok, yakni jalur lintasan masih berupa garis lurus, tapi lebih fleksibel karena pada titik-titik tertentu kita berbelok dengan menyesuaian kondisi medan. Yang ketiga dengan guide/patokan tanda medan tertentu, misalnya guide punggungan/guide lembahan/guide sungai. Jalur ini lebih fleksibel karena tidak lurus benar, tapi menyesuaikan kondisi medan, dengan tetap berpatokan tanda medan tertentu sebagai petokan pergerakannya.</em></p>
<p><em>Untuk membuat jalur lintasan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.</em></p>
<ol>
<li><em>Usahakan titik awal dan titik akhir adalah tanda medan yang ekstrim, dan memungkinkan untuk resection dari titik-titik tersebut.</em></li>
<li><em>Titik awal harus mudah dicapai/gampang aksesnya</em></li>
<li><em>Disepanjang jalur lintasan harus ada tanda medan yang memadai untuk dijadikan sebagai patokan, sehingga dalam perjalanan nanti anda dapat menentukan posisi anda di peta sesering mungkin.</em></li>
<li><em>Dalam menentukan jalur lintasan, perhatikan kebutuhan air, kecepatan pergerakan vegetasi yang berada dijalur lintasan, serta kondisi medan lintasan. Anda harus bisa memperkirakan hari ke berapa akan menemukan air, hari ke berapa medannya berupa tanjakan terjal dan sebagainya.</em></li>
<li><em>Mengingat banyaknya faktor yang perlu diperhatikan, usahakan untuk selalu berdiskusi dengan regu atau dengan orang yang sudah pernah melewati jalur tersebut sehingga resiko bisa diminimalkan.</em></li>
</ol>
<p><em>Penampang Lintasan</em></p>
<p><em>Penampang lintasan adalah penggambaran secara proporsional bentuk jalur lintasan jika dilihat dari samping, dengan menggunakan garis kontur sebagai acuan. Sebagaimana kita ketahui bahwa peta topografi yang dua dimensi, dan sudut pendangnya dari atas, agak sulit bagi kita untuk membayangkan bagaimana bentuk medan lintasan yang sebenarnya, terutama menyangkut ketinggian. Dalam kontur yang kerapatannya sedemikian rupa, bagaimana kira-kira bentuk di medan sebenarnya. Untuk memudahkan kita menggambarkan bentuk medan dari peta topografi yang ada, maka dibuatlah penampang lintasan.</em></p>
<p><em>Beberapa manfaat penampang lintasan :</em></p>
<ol>
<li><em>Sebagai bahan pertimbangan dalam menyusun perencanaan perjalanan</em></li>
<li><em>Memudahkan kita untuk menggambarkan kondisi keterjalan dan kecuraman medan</em></li>
<li><em>Dapat mengetahui titik-titik ketinggian dan jarak dari tanda medan tertentu</em></li>
<li><em>Untuk menyusun penampang lintasan biasanya menggunakan kertas milimeter block, guna menambah akurasi penerjemahan dari peta topografi ke penampang.</em></li>
</ol>
<p><em>Langkah-langkah membuat penampang lintasan:</em></p>
<ol>
<li><em>Siapkan peta yang sudah diplot, kertas milimeter blok, pensil mekanik/pensil biasa yang runcing, penggaris dan penghapus</em></li>
<li><em>Buatlah sumbu x, dan y. sumbu x mewakili jarak, dengan satuan rata-rata jarak dari lintasan yang anda buat. Misal meter atau kilometer. Sumbu y mewakili ketinggian, dengan satuan mdpl (meter diatas permukaan laut). Angkanya bisa dimulai dari titik terendah atau dibawahnya dan diakhiri titik tertinggi atau diatasnya.</em></li>
<li><em>Tempatkan titik awal di sumbu x=0 dan sumbu y sesuai dengan ketinggian titik tersebut. Lalu peda perubahan kontur berikutnya, buatlah satu titik lagi, dengan jarak dan ketinggian sesuai dengan perubahan kontur pada jalur yang sudah anda buat. Demikian seterusnya hingga titik akhir.</em></li>
<li><em>Perubahan satu kontur diwakili oleh satu titik. Titik-titik tersebut dihubungkan sat sama lainnya hingga membentuk penampang berupa garis menanjak, turun dan mendatar.</em></li>
<li><em>Tembahkan keterangan pada tanda-tanda medan tertentu, misalkan nama-nama sungai, puncakan dan titik-titik aktivitas anda (biasanya berupa titik bivak dan titik istirahat), ataupun tanda medan lainnya. Tambahan informasi tentang vegetasi pada setiap lintasan, dan skala penampang akan lebih membantu pembaca dalam menggunakan penampang yang telah dibuat.</em></li>
</ol>
<p><em>Ingatlah hai engkau penjelahan alam :</em></p>
<ol>
<li><em>Take nothing, but pictures [jangan ambil sesuatu kecuali gambar]</em></li>
<li><em>Kill nothing, but times [jangan bunuh sesuatu kecuali waktu]</em></li>
<li><em>Leave nothing, but foot-print [jangan tinggalkan sesuatu kecuali jejak kaki]</em></li>
</ol>
<p><em>Dan senantiasa</em></p>
<ol>
<li><em>Percaya kepada Tuhan Yang Maha Kuasa</em></li>
<li><em>Percaya kepada kawan [dalam hal ini kawan adalah rekan pegiat dan peralatan serta perlengkapan, tentu saja juga harus dibarengi bahwa diri kita sendiri juga dapat dipercaya oleh “teman” tersebut dengan menjaga, memelihara dan melindunginya]</em></li>
</ol>
<p><em>Percaya kepada diri sendiri, yaitu percaya bahwa kita mampu melakukan segala sesuatunya dengan semaksimal mungkin</em></p>
<p>Simkuring di dieu mung hoyong ngabejaan batur,,,  sumber asli na tina ; www.google.com</p>
<p>hapunten pisan ka penulis bilih teu raos manah* <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/licinpisan.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/licinpisan.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/licinpisan.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/licinpisan.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/licinpisan.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/licinpisan.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/licinpisan.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/licinpisan.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/licinpisan.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/licinpisan.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/licinpisan.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/licinpisan.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/licinpisan.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/licinpisan.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=licinpisan.wordpress.com&amp;blog=13934866&amp;post=12&amp;subd=licinpisan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://licinpisan.wordpress.com/2010/05/30/pengetahuan_dasar_navigasi_darat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/66a5e99c4e95b19efeb7bf86d4ca3525?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">licinpisan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Management Perjalanan &amp; Peralatan</title>
		<link>http://licinpisan.wordpress.com/2010/05/30/management-perjalanan-peralatan/</link>
		<comments>http://licinpisan.wordpress.com/2010/05/30/management-perjalanan-peralatan/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 30 May 2010 05:24:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Suhex Reccurence</dc:creator>
				<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Management Perjalanan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://licinpisan.wordpress.com/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[Gunakan lah materi ini sebaik mungkin. . . hehe :D<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=licinpisan.wordpress.com&amp;blog=13934866&amp;post=6&amp;subd=licinpisan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h2><span style="color:#444444;line-height:24px;font-size:16px;"><strong><span id="more-6"></span>Persiapan</strong></span></h2>
<div style="text-align:0;"><span style="border-collapse:collapse;line-height:27px;font-size:medium;">U</span><span style="line-height:24px;font-size:16px;">ntuk merencanakan suatu perjalanan ke alam bebas harus ada persiapan dan penyusunan secara matang. Ada rumusan yang umum digunakan yaitu 4W &amp; 1 H, yang kepanjangannya adalah Where, Who, Why, When dan How.</span></div>
<p>Berikut ini aplikasi dari rumusan tersebut:</p>
<p>* Where (Dimana), untuk melakukan suatu kegiatan alam kita harus mengetahui dimana yang akan kita digunakan, misalnya: Gunung Ceremai, Kuningan Jawa Barat.<br />
* Who (Siapa), apakah anda akan melakukan kegiatan alam tersebut sendiri atau dengan berkelompok. contoh: satu kelompok (25 personil) terdiri dari 5 orang anggota penuh (panitia) dan 20 orang siswa DIKLAT (peserta)<br />
* Why (Mengapa), ini adalah pertanyaan yang cukup panjang jawabannya dan bisa bermacam-macam contoh : Untuk melakukan DIKLATSAR.<br />
* When (Kapan) waktu pelaksanaan kegiatan tersebut, berapa lama ? contoh : 23 Februari 2005 sampai dengan 25 Februari 2005</p>
<p>Dari pertanyaan-pertanyaan 4 W, maka didapat suatu gambaran sebagai berikut: pada tanggal 23-25 Februari 2005 akan diadakan DIKLAT, yang akan dilaksanakan oleh 5 panitia dan diikuti 20 orang siswa DIKLAT. Tempat yang digunakan untuk DIKLAT tersebut yaitu di Tangkiling-Bukit Batu-Palangkaraya.</p>
<p>Untuk How [Bagaimana] merupakan suatu pembahasan yang lebih komprehensif dari jawaban pertanyaan diatas ulasannya adalah sebagai berikut :</p>
<p>* Bagaimana kondisi lokasi<br />
* Bagaimana cuaca disana<br />
* Bagaimana perizinannya<br />
* Bagaimana mendapatkan air<br />
* Bagaimana pengaturan tugas panitia<br />
* Bagaimana acara akan berlangsung<br />
* Bagaimana materi yang disampaikan<br />
* dan masih banyak “bagaimana ?” lagi (silahkan anda mengembangkannya lagi)</p>
<p>Dari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang timbul itulah kita dapat menyusun rencana gegiatan yang didalamnya mencakup rincian :</p>
<ol>
<li>Pemilihan medan, dengan memperhitungkan lokasi basecamp, pembagian waktu dan sebagainya.</li>
<li>Pengurusan perizinan</li>
<li>Pembagian tugas panitia</li>
<li>Persiapan kebutuhan acara</li>
<li>Kebutuhan peralatan dan perlengkapan</li>
<li>dan lain sebagainya.</li>
</ol>
<p>Yang tidak kalah pentingnya adalah anda akan mendapatkan point-point bagi kalkulasi biaya yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan tersebut.</p>
<p><strong>Packing</strong></p>
<p>Sebelum melakukan kegiatan alam bebas kita biasanya menentukan dahulu peralatan dan perlengkapan yang akan dibawa, jika telah siap semua inilah saatnya mempacking barang-barang tersebut ke dalam carier atau backpack. Packing yang baik menjadikan perjalanan anda nyaman karena ringkas dan tidak menyulitkan.<br />
Prinsip dasar yang mutlak dalam mempacking adalah :</p>
<p>1. Pada saat back-pack dipakai beban terberat harus jatuh ke pundak, Mengapa beban harus jatuh kepundak, ini disebabkan dalam melakukan perjalanan [misalnya pendakian] kedua kaki kita harus dalam keadaan bebas bergerak, jika salah mempacking barang dan beban terberat jatuh kepinggul akibatnya adalah kaki tidak dapat bebas bergerak dan menjadi cepat lelah karena beban backpack anda menekan pinggul belakang. Ingat : Letakkan barang yang berat pada bagian teratas dan terdekat dengan punggung.<br />
2. Membagi berat beban secara seimbang antara bagian kanan dan kiri pundak Tujuannya adalah agar tidak menyiksa salah satu bagian pundak dan memudahkan anda menjaga keseimbangan dalam menghadapi jalur berbahaya yang membutuhkan keseimbangan seperti : meniti jembatan dari sebatang pohon, berjalan dibibir jurang, dan keadaan lainnya.<br />
Pertimbangan lainnya adalah sebagai berikut :</p>
<p>* Kelompokkan barang sesuai kegunaannya lalu tempatkan dalam satu kantung untuk mempermudah pengorganisasiannya. Misal : alat mandi ditaruh dalam satu kantung plastik.<br />
* Maksimalkan tempat yang ada, misalkan Nesting (Panci Serbaguna) jangan dibiarkan kosong bagian dalamnya saat dimasukkan ke dalam carrier, isikan bahan makanan kedalamnya, misal : beras dan telur.<br />
* Tempatkan barang yang sering digunakan pada tempat yang mudah dicapai pada saat diperlukan, misalnya: rain coat/jas hujan pada kantong samping carrier.<br />
* Hindarkan menggantungkan barang-barang diluar carrier, karena barang diluar carrier akan mengganggu perjalanan anda akibat tersangkut-sangkut dan berkesan berantakan, usahakan semuanya dapat dipacking dalam carrier.</p>
<p>Mengenai berat maksimal yang dapat diangkat oleh anda, sebenarnya adalah suatu angka yang relatif, patokan umum idealnya adalah 1/3 dari berat badan anda , tetapi ini kembali lagi ke kemampuan fisik setiap individu, yang terbaik adalah dengan tidak memaksakan diri, lagi pula anda dapat menyiasati pemilihan barang yang akan dibawa dengan selalu memilih barang/alat yang berfungsi ganda dengan bobot yang ringan dan hanya membawa barang yang benar-benar perlu.</p>
<p>Memilih dan Menempatkan Barang</p>
<p>Dalam memilih barang yang akan dibawa pergi mendaki atau kegiatan alam bebas selalu cari alat/perlengkapan yang berfungsi ganda, tujuannya apalagi kalau bukan untuk meringankan berat beban yang harus anda bawa, contoh : Alumunium foil, bisa untuk pengganti piring, bisa untuk membungkus sisa nasi untuk dimakan nanti, dan yang penting bisa dilipat hingga tidak memakan tempat di carrier.</p>
<p>Matras ; Sebisa mungkin matras disimpan didalam carrier jika akan pergi kelokasi yang hutannya lebat, atau jika akan membuka jalur pendakian baru. Banyak rekan pendaki yang lebih senang mengikatkan matras diluar, memang kelihatannya bagus tetapi jika sudah berada di jalur pendakian, baru terasa bahwa metode ini mengakibatkan matras sering nyangkut ke batang pohon dan semak tinggi, lagipula pada saat akan digunakan matrasnya sudah kotor.</p>
<p>Kantung Plastik ; Selalu siapkan kantung plastik didalam carreir anda, karena akan berguna sekali nanti misalnya untuk tempat sampah yang harus anda bawa turun, baju basah dan lain sebagainya. Gunakan selalu kantung plastik untuk mengorganisir barang barang didalam carrier anda (dapat dikelompokkan masing-masing pakaian, makanan dan item lainnya), ini untuk mempermudah jika sewaktu-waktu anda ingin memilih pakaian, makanan dsb.</p>
<p>Menyimpan Pakaian ;<br />
Jika anda meragukan carrier yang anda gunakan kedap air atau tidak, selalu bungkus pakaian anda didalam kantung plastik [dry-zax], gunanya agar pakaian tidak basah dan lembab. Sebaiknya pakaian kotor dipisahkan dalam kantung tersendiri dan tidak dicampur dengan pakaian bersih.</p>
<p>Menyimpan Makanan ;<br />
Pada gunung-gunung tertentu (misalnya Rinjani) usahakan makanan dibungkus dengan plastik dan ditutup rapat kemudian dimasukkan kedalam keril, karena monyet-monyet didekat puncak / base camp terakhir suka membongkar isi tenda untuk mencari makanan.</p>
<p>Menyimpan Korek Api Batangan ;<br />
Simpan korek api batangan anda didalam bekas tempat film (photo), agar korek api anda selalu kering.</p>
<p>Packing Barang / Menyusun Barang Di Carrier ;<br />
Selalu simpan barang yang paling berat diposisi atas, gunanya agar pada saat carrier digunakan, beban terberat berada dipundak anda dan bukan di pinggang anda hingga memudahkan kaki melangkah.</p>
<p>Perlengkapan Pribadi Alam Bebas<br />
Outdoor activity atau kegiatan alam bebas merupakan kegiatan yang penuh resiko dan memerlukan perhitungan yang cermat. Jika salah-salah maka bukan mustahil musibah akan mengancam setiap saat. Sebagai contoh, sebuah referensi pernah mencatat bahwa salah satu kegiatan alam bebas yaitu rock climbing [panjat tebing] merupakan jenis olahraga yang resiko kematiannya merupakan peringkat ke-2 setelah olahraga balap mobil formula-1.</p>
<p>Tentu saja resiko tersebut terjadi apabila safety-procedure tidak menjadi perhatian yang serius, tetapi apabila safety-procedure diperhatikan dan sering berlatih, maka resiko tersebut dapat ditekan sampai titik paling aman.</p>
<p>Perjalanan alam bebas pasti akan bersentuhan dengan cuaca, situasi medan dan waktu yang kadang tidak bersahabat, baik malam atau siang hari, oleh karena itu perlu dipersiapkan perlengkapan yang memadai.</p>
<p>Salah satu “perisai diri” ketika melakukan aktivitas alam bebas adalah perlengkapan diri pribadi. Berikut digambarkan beberapa perlengkapan pribadi standard.</p>
<p>1. Tutup kepala/topi<br />
Untuk melindungi diri dari cuaca panas atau dingin perlu penutup kepala. Dalam keadaan panas atau hujan, maka tutup kepala yang baik adalah yang juga dapat melindungi kepala dan wajah sekaligus. Untuk ini pilihan terbaik adalah topi rimba atau topi yang punya pelindung keliling. Topi pet atau topi softball tidak direkomendasikan.<br />
Pada cuaca dingin malam hari atau di daerah tinggi, maka penutup kepala yang baik adlah yang dapat memberikan rasa hangat. Pilihannya adalah balaklava atau biasa disebut kupluk.</p>
<p>2. Syal-slayer<br />
Slayer atau syal bukan hanya digunakan sebagai identitas organisasi, tetapi sebetulnya mempunyai fungsi lainnya. Syal/slayer dapat digunakan untuk menghangatkan leher ketika cuaca dingin, dapat juga digunakan sebagai saringan air ketika survival. Syal/slayer juga sangat berguna ketika dalam keadaan darurat, baik digunakan untuk perban darurat atau sebagai alat peraga darurat. Oleh karenanya disarankan menggunakan syal/slayer yang berwarna mecolok dan terbuat dari bahan yang kuat serta dapat menyerap air namun cepat kering.</p>
<p>3. Baju<br />
Kebutuhan ini multak, tidak bisa beraktivitas tanpa baju [bayangkan kalau tanpa ini, maka kulit akan terbakar matahari]. Baju yang baik adalah dari bahan yang dapat menyerap keringat, tidak disarankan menggunakan baju dari bahan nilon karena panas dan tidak dapat meyerap keringat. Baju dengan bahan demikian biasanya adalah planel atau paling tidak kaos dari bahan katun.<br />
Pilihan warna untuk aktivitas lapangan seperti halnya juga slayer/syal adalah yang mencolok agar bia terjadi keadaan darurat [misalnya hilang] dapat dengan mudah diidentifikasi dan dikenali.<br />
Dalam beraktivitas di alam bebas jangan pernah melupakan baju salin/ganti, hal ini karena aktivitas lapangan akan sangat banyak mengeluarkan energi yang membuat badan kita berkeringat. Bawalah baju salain 2 atau 3 buah.</p>
<p>4. Celana<br />
Celana lapang yang baik adalah yang memnuhi syarat ringan, mudah kering dan dapat menyerap keringat. Pemakaian bahan jeans sangat tidak direkomendasikan karena berat dan susah kering dan membuat lecet. Celana yang baik adalah kain dengan tenunan ripstop [bila berlubang kecil tidak merembet atau robek memanjang]. Bila aktivitas dilakukan di daerah pantai atau perairan juga baik bila menggunakan bahan dari parasut tipis.<br />
Selain celana panjang, jangan lupa bahwa under-wear juga penting. jangan lupa juga untuk menyediakan serep ganti.</p>
<p>5. Jaket<br />
Salah satu perlengkapan penting dalam alam bebas adalah jaket. Jaket digunakan untuk melindungi diri dari dingin bahkan sengatan matahari atau hujan.<br />
Jaket yang baik adalah model larva, yaitu jaket yang panjang sampai ke pangkal paha. Jaket ini juga biasanya dilengkapi dengan penutup kepala [kupluk]. Akan sangat baik bila jaket yang memiliki dua lapisan (double-layer). Lapisan dalam biasanya berbahan penghangat dan menyeyerap keringat seperti wool atau polartex, sedang lapisan luar berfungsi menahan air dan dingin. Kini teknologi tekstil sudah mampu memproduksi Gore-Tex bahan jaket yang nyaman dipakai saat mendaki bahan ini memungkinkan kulit tetap bernafas, tidak gerah mengeluarkan keringat mampu menahan angin (wind breaking) dan resapan air hujan (water proff) sayang, bahan ini masih mahal. Yang paling baik jaket terbuat dari bulu angsa-biasanya digunakan untuk kegiatan pendakian gunung es.</p>
<p>6. Slepping bag<br />
Istirahat adalah kebutuhan pegiat alam bebas setelah aktivitas yang melelahkan seharian. Tempat istirahat yang ideal adah dengan menggunakan slepping bag [kantong tidur]. Slepping bag yang baik juga biasanya terbuat dari dua sisi, yaitu yang dingin, licin dan tahan air satu sisi, dan yang hangat dan tebal disisi lain. Penggunaannya sesuai dengan cuaca saat istirahat.</p>
<p>7. Sepatu<br />
Sepatu yang baik yaitu yang melindungi tapak kaki sampai mata kaki, kulit tebal tidak mudah sobek bila kena duri. keras bagian depannya, untuk melindungi ujung jari kaki apabila terbentur batu. bentuk sol bawahnya dapat menggigit ke segala arah dan cukup kaku, ada lubang ventilasi bersekat halus. Gunakan sepatu yang dapat dikencangkan dan dieratkan pemakaiannya [menggunakan ban atau tali. Dilapangan sepatu tidak boleh longgar karena akan menyebabkan pergesekan kaki dengan sepatu yang berakibat lecet. Penggunaan sepatu juga harus dibarengi dengan kaos kaki. Untuk ini juga sebaiknya disediakan kaos kaki serep bial suatu saat basah.</p>
<p>8. Carrier<br />
Carrier bag atau ransel sebaiknya gunakan yang tidak terlalu besar tetapi juga tidak terlampau kecil, artinya mapu menampung perlengkapan dan peralatan yang dibawa. Sebaiknya jangan menggunakan carrier yang mempunyai banyak kantong dibagian luar karena dalam keadaan tertentu ini akan menghambat pergerakan. Gunakan carrier yang ramping walaupun agak tinggi, ini lebih baik daripada yang gemuk tetapi rendah. Sebelum berangkat harus diperhatikan jahitan-jahitannya, karena kerusakan pada jahitan terutama sabuk sandang akan berakibat sangat fatal.</p>
<p>9. Alat masak, makan dan mandi<br />
Perlengkapan sangat penting lainnya adalah alat masak, makan dan mandi. Bagimanapun juga dalam kondisi lapangan kita sangat perlu untuk menghemat aktu dan bahan masalak. Gunakan alat dari alumunium karena cepat panas, untuk ini nesting menjadi pilihan yang sangat baik, disamping dia ringkas dan serba guna. Juga perlu dipersiapkan alat bantu makan lainnya (sendok, piring, dll) dan pastikan bahan bakar untuk memasak / membuat api seperti lilin, spirtus, parafin, dll.<br />
Jangan lupa juga siapkan phiples minum sebagai bekal perjalanan [saat ini banyak tersedia model dan jenis phipless].<br />
Perlengkapan mandi juga sangat penting karena tidak jarang perjalanan dilakukan berhari-hari dengan tubuh penuh keringat. Bawalah alat mandi seperti sabun yang berkemasan tube agar mudah disimpan dan tidak perlu membuang sampah bungkusan disembarang tempat.</p>
<p>10. Obat-obatan dan Survival Kits<br />
Perlengkapan pribadi lainnya yang sangat penting adalah obat-obatan, apalagi kalau pegiat mempunyai penyakit khusus tertentu seperti asma. Disamping obat-obatan juga setidaknya mempunyai kelengkapan survival kits.</p>
<p>Sumber : www.google.com</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/licinpisan.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/licinpisan.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/licinpisan.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/licinpisan.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/licinpisan.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/licinpisan.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/licinpisan.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/licinpisan.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/licinpisan.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/licinpisan.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/licinpisan.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/licinpisan.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/licinpisan.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/licinpisan.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=licinpisan.wordpress.com&amp;blog=13934866&amp;post=6&amp;subd=licinpisan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://licinpisan.wordpress.com/2010/05/30/management-perjalanan-peralatan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/66a5e99c4e95b19efeb7bf86d4ca3525?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">licinpisan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>P3K</title>
		<link>http://licinpisan.wordpress.com/2010/04/15/p3k/</link>
		<comments>http://licinpisan.wordpress.com/2010/04/15/p3k/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Apr 2010 10:55:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Suhex Reccurence</dc:creator>
				<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[P3K]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://licinpisan.wordpress.com/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan adalah bantuan pertama yang diberikan kepada orang yang cedera akibat kecelakaan sebelum ditangani oleh tenaga medis dengan sasaran menyelamatkan nyawa, menghindari cedera atau kondisi yang lebih parah dan mempercepat penyembuhan. Seorang pemberi pertolongan pertama bertugas: * Memeriksa keadaan tanpa membahayakan diri sendiri, misalnya memeriksa apakah masih ada kabel listrik tegangan tinggi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=licinpisan.wordpress.com&amp;blog=13934866&amp;post=18&amp;subd=licinpisan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<h1><span style="font-weight:normal;font-size:13px;"><span id="more-18"></span>Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan adalah bantuan pertama yang diberikan kepada orang yang cedera akibat kecelakaan sebelum ditangani oleh tenaga medis dengan sasaran menyelamatkan nyawa, menghindari cedera atau kondisi yang lebih parah dan mempercepat penyembuhan.</span></h1>
<p>Seorang pemberi pertolongan pertama bertugas:</p>
<p>* Memeriksa keadaan tanpa membahayakan diri sendiri, misalnya memeriksa apakah masih ada kabel listrik tegangan tinggi di sekitar korban, atau ada ceceran bahan kimia berbahaya dll.<br />
* Menenangkan korban dan melindunginya dari bahaya yang mungkin timbul<br />
* Jika perlu membawa korban kembali ke tempat tinggalnya atau ke tempat sarana medis terdekat.</p>
<p>Sikap tenang dan percaya diri selama menilai situasi dan melakukan perawatan medis yang diperlukan, akan menentramkan semua orang terutama korban dan membuat mereka yakin ia akan mampu mengatasi situasi.</p>
<p>Seorang pemberi P3K yang bijaksana tidak hanya tergantung dari barang-barang yang ada dalam perlengkapan P3Knya, tetapi ia akan berusaha untuk menggunakan barang apa saja yang ada di sekitarnya, dan apabila perlu ia akan membuatnya sendiri, misalnya tandu darurat, penyangga darurat dan lain-lain.</p>
<p>Hal-Hal Yang Perlu Dicermati</p>
<p>* Urutan Kejadian; Bagaimana Kecelakaan Terjadi?, Tanyakan pada korban dan saksi mata.<br />
* Gejala; Dengar baik-baik segala ucapan korban, apakah ia merasa sakit? Lihat secara jelas, bagian tubuh mana yang mengalami pendarahan?Dapatkah digerakkan?<br />
* Tanda-Tanda; Periksa korban dari ujung kepala hingga kaki dengan cermat, bandingkan ke dua sisi badan korban. Adakah kejanggalan yang terlihat atau teraba? Apakah korban mengenakan tanda-tanda medis seperti gelang medis<br />
* Perkecil Resiko terjadinya kecelakaan susulan; misalnya terjadi kecelakaan lalu lintas, perkecil resiko terjadinya kebakaran dengan mematikan stater / kunci kontak, segera siagakan alat pemadam kebakaran. Peringatkan Kendaraan lain yang melewati tempat kejadian, seperti dengan memasang segitiga pengaman atau tunjuk beberapa orang untuk mengatur lalu lintas<br />
* Saksi Mata</p>
<p>Bila korban mendapat kecelakaan karena:</p>
<p>* Berhubungan dengan Listrik<br />
Bila korban terkena sengatan listrik tegangan rendah, misalnya di ruang tamu, hentikan aliran listrik dengan mematikan sekering atau mencabut stop kontak. Bila hal ini sulit untuk dilakukan, berdirilah pada permukaan yang kering, misalnya gulungan kertas, keset karet dll, dan sentakkan anggota tubuh korban yang terkena aliran listrik tersebut dengan benda yang bukan menghantarkan arus listrik, misalnya tangkai sapu. Kemudian baru lakukan pertolongan pertama seperlunya. DILARANG MENYENTUHKAN KORBAN DENGAN BENDA BASAH, karena air merupakan penghantar listrik yang baik.<br />
* Berhubungan dengan Kendaraan Pengangkut Bahan Kimia<br />
Biasanya kendaraan pengangkut bahan kimia selalu memberikan tanda-tanda peringatan, misalnya apakah cairan yang dimuat mengandung zat beracun, zat mudah terbakar, zat korosif dll. untuk itu kita harus berhati-hati dalam menanganinya. Misalnya kita ragu-ragu untuk menolongnya, usaha paling bagus adalah dengan segera melaporkan kecelakaan tersebut dengan data-data yang ada.<br />
* Berhubungan dengan Binatang Buas atau Berbisa<br />
Sebelum kita melakukan pertolongan pertama, alangkah bijaksananya bila kita terlebih dahulu mengecek apakah binatang tersebut masih ada di tempat kejadian atau sudah pergi.</p>
<p>Memindahkan Korban<br />
Kenyamanan dan kondisi cedera harus menjadi pertimbangan utama dalam memindahkan korban. Ada dua hal penting, yaitu:</p>
<p>* Lebih baik pindahkan barang-barang yang bisa membahayakan korban, bila hal ini tidak mungkin untuk dilakukan, baru dilakukan usaha memindahkan korban.<br />
* Jangan memindahkan sendiri korban, bila ada orang lain yang dapat membantu.</p>
<p><em>Agar cedera korban tidak tambah parah, tunggu sampai orang yang ahli datang karena penanganan yang ceroboh dapat memperparah cedera. Misalnya tulang yang patah dapat merobek pembuluh darah dan menyebabkan pendarahan hebat. Pilihlah teknik yang sesuai dengan kondisi cedera, jumlah tenaga penolong, ukuran tubuh korban, dan rute yang akan dilewati.<br />
Prinsip-Prinsip dalam mengangkat</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>* Berdiri dengan kedua kaki sedikit merenggang.<br />
* Tegakkan punggung dan bengkokkan lutut.<br />
* Jaga keseimbangan tubuh<br />
* Gunakan tumpuan kaki (paha) untuk mengangkat<br />
</em><br />
Peralatan P3K</p>
<p>* Plester<br />
* Pembalut berperekat<br />
* Pembalut steril (besar, sedang dan kecil)<br />
* Perban gulung<br />
* Perban segitiga<br />
* Kain Kasa<br />
* Pinset<br />
* Gunting<br />
* Peniti, dll</p>
<p><strong>I. PENDAHULUAN<br />
</strong><br />
P3K secara  harfiah merupakan tindakan yang dapat diberikan / dilakukan oleh orang yang terlatih atau memahami tentang seluk-beluk anatomi-kesehatan dasar. Kemampuan dasar ini dapat diperoleh melalui pendidikan umum formal, pelatihan ataupun pengalaman.</p>
<p>Pertolongan pertama mempunyai makna tindakan yang pertama sebelum korban dibawa ke fasilitas kesehatan yang lebih baik, sehingga tujuan dari P3K sesungguhnya adalah: mencegah agar cedera yang timbul tidak lebih parah, menghentikan perdarahan, mencegah nyeri dan menjamin fungsi saluran napas,  sehingga korban dapat terselamatkan dari bahaya maut semaksimal mungkin. Ada juga korban tidak hanya mengalami trauma sejenis, tetapi juga kompleks sehingga penolongpun diharuskan untuk mampu memberikan pertolongan sekaligus ataun sesuai prioritas yang mengancam nyawa.</p>
<p>Dalam kesempatan ini akan dibahas P3K secara praktis pada kasus-kasus darurat yang sering kita amati dan alami di sekitar kita.<br />
<strong>II. PERTOLONGAN PERTAMA PADA KASUS TENGGELAM<br />
</strong><br />
Kasus tenggelam merupakan kasus yang sering terjadi pada wilayah perairan seperti di Indonesia, terutama daerah sungai atau pantai. Perlu diketahui adanya perbedaan media air sebagai sumber persoalan; air asin atau air tawar. Tetapi pada prinsipnya dalam P3K kasus tenggelam adalah sesegera mungkin mengangkat korban tenggelam ke permukaan air atau daratan. Hal ini tentu akan dilakukan oleh orang yang sangat terlatih dalam hal berenang, sehingga penolongpun tidak menjadi korban berikutnya. Setelah korban tenggelam ini dapat di keluarkan dari air maka mengusahakan untuk membebaskan fungsi pernapasan; dan mengeluarkan air yang sudah terminum dengan cara merangsang terjadinya refleks muntah (bagi pasien sadar), sedangkan bagi korban tak sadar/ koma kita harus menghindari terjadinya aspirasi( masuknya air dalam saluran napas) serta sesegera mungkin dibawa ke fasilitas kesehatan yang memadai.  Kegawatan pada korban tenggelam adalah terjadinya kegagalan fungsi pernapasan akibat masuknya cairan(air tawar/ asin) ke dalam jaringan paru yang dapat menyebabkan gangguan fungsi respirasi. Semakin cepat diketahui/ ditolong korban tenggelam maka semakin lebih baik dan mudah untuk penanganan selanjutnya.<br />
<strong>III. PERTOLONGAN PADA LUKA BAKAR<br />
</strong><br />
Terpenting dalam pertolongan pertama pada luka bakar adalah  segera membebaskan korban dari sumber luka bakar kemudian mengatasi nyeri. Terbakarnya permukaan tubuh membuat sensasi nyeri yang sangat hebat, terutama pada luka bakar yang tidak terlalu dalam, sehingga syaraf-syaraf nyeri banyak mengalami rangsangan. Selain itu juga perlu mendapat perhatian sumber penyebab luka bakar itu apa? Api dan air/ uap panas sangat berbeda, begitu juga dengan lokasi tubuh yang terbakar. Sangat berbahaya adalah mengirup uap panas, hal ini akan segera menyebabkan udema jaringan saluran napas, sehingga terjadi obstruksi saluran napas.</p>
<p>Mengurangi perasaan nyeri yang paling ideal adalah air bersih yang dingin. Seringkali terjadi kesalahan dalam penanganan luka bakar pada tahapan ini. Penggunaan bahan selain air bersih merupakan hal yang sangat tidak menguntungkan bagi korban, karena selain air yang bersih dapat menyebabkan semakin kotornya permukaan luka, mempersulit pembersihannya pada saatnya nanti dan dapat menambah rangsangan nyeri itu sendiri. Kalau memungkinkan berikanlah siraman air mengalir.<br />
<strong>IV. PERTOLONGAN PERTAMA PADA GIGITAN BINATANG<br />
</strong><br />
Sebagai pedoman dasar pada setiap luka gigitan, maka yang utama dilakukan adalah mengeluarkan racun yang sempat masuk ke dalam tubuh korban dengan menekan sekitar luka sehingga darah yang sudah tercemar sebagian besar dapat dikeluarkan dari luka tersebut. Seringkali luka yang ditimbulkan tidak sampai mengeluarkan darah, seyogyanya luka tersebut diperlebar secukupnya sampai penolong dapat mengeluarkan darah yang tercemar itu. Tidak dianjurkan mengisap tempat gigitan, hal ini dapat membahayakan bagi pengisapnya, apalagi yang memiliki luka walaupun kecil di bagian mukosa mulutnya. Sambil menekan agar racunnya keluar juga dapat dilakukan pembebatan( ikat) pada bagian proksimal dari gigitan, ini bertujuan untuk mencegah semakin tersebarnya racun ke dalam tubuh yang lain. Selanjutnya segera mungkin dibawa ke pusat kesehatan yang lebih maju untuk perawatan lanjut.</p>
<p><strong> V. PERTOLONGAN PERTAMA PADA PATAH TULANG<br />
</strong><br />
Dalam penanganan patah tulang (fraktur) yang penting diperhatikan adalah ; mencegah komplikasi lebih parah, mencegah perdarahan, mencegah infeksi. Secara teoritis patah tulang dibagi menjadi 2; patah tulang terbuka dan patah tulang tertutup. Penanganan pertama pada patah tulang secara prinsipil adalah menghindari gerakan-gerakan/gesekan-gesekan pada bagian yang patah. Tindakan ini dapat dilakukan pembidaian/ pasang spalk  dengan menggunakan kayu atau benda yang dapat menahan agar kedua fraksi yang patah tidak saling bergesekan. Selain itu, khusus pada patah tulang terbuka, maka penolong juga mencegah agar luka tersebut tidak terkontaminasi dengan kotoran/ infeksi. Pada patah tulang vertebra, yang perlu diperhatikan adalah saat pengangkatan korban harus dalam keadaan vertebranya lurus, artinya korban harus diletakkan pada alas kasur yang keras, untuk menghindari cedera saraf pada vertebra. Patah tulang vertebra termasuk yang sangat gawat apabila daerah frakturnya sekitar leher, karena dapat menyebabkan kelumpuhan total pada seluruh anggota badan. Fraktur pada tulang tengkorak  dapat menyebabkan kematian mendadak, sehingga seringkali pertolongan pertamapun tidak sempat dilakukan.</p>
<p><strong> VI. KOMPLEKSITAS PADA PERTOLONGAN PERTAMA<br />
</strong><br />
Tidak jarang terjadi korban kecelakaan dengan multiple injury, sehingga mempersulit bagi penolong. Pada keadaan demikian ini berlaku ? skala prioritas?. Terpenting adalah menjaga system saluran pernapasan dan detak jantung berfungsi dengan baik, sehingga kita masih dapat menyelamatkan nyawa korban. Pada kecelakaan massal seperti kecelakaan pesawat terbang, tanah longsor, kebanjiran dan sebagainya maka dikenal adanya ?Samaritan law?, yaitu penolong berhak menilai korban yang masih layak untuk ditolong dengan kemungkinan harapan hidup masih tinggi, setelah meraka teratasi, barulah korban-korban yang berikutnya. Hal ini tergantung juga dari jumlah personil penolong.</p>
<p><em> Setiap usaha pertolongan berarti diawali dengan niat yang baik, sehingga untuk menghasilkan hasil yang baik diperlukan ketrampilan serta pengetahuan yang cukup agar tidak terjadi kesalahan dalam bertindak. Tidak jarang di Emergency suatu Rumah Sakit tertentu para korban yang sudah kita tolong justru sudah meninggal, hal ini berarti kita tidak berhasil. Paling tidak usaha kita sudah maksimal disertai dengan kecermatan saat-saat kita menolong korban, tetapi tidak juga berhasil maka bukan berarti kita gagal, tetapi memang proses perjalanan kehidupan sudah sampai waktunya. </em></p>
<p>Simkuring di dieu mung hoyong ngabejaan batur,,,  sumber asli na tina ; www.google.com</p>
<p>hapunten pisan ka penulis bilih teu raos manah* <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/licinpisan.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/licinpisan.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/licinpisan.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/licinpisan.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/licinpisan.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/licinpisan.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/licinpisan.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/licinpisan.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/licinpisan.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/licinpisan.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/licinpisan.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/licinpisan.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/licinpisan.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/licinpisan.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=licinpisan.wordpress.com&amp;blog=13934866&amp;post=18&amp;subd=licinpisan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://licinpisan.wordpress.com/2010/04/15/p3k/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/66a5e99c4e95b19efeb7bf86d4ca3525?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">licinpisan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Materi Dasar SAR</title>
		<link>http://licinpisan.wordpress.com/2010/01/01/21/</link>
		<comments>http://licinpisan.wordpress.com/2010/01/01/21/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 01 Jan 2010 10:59:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Suhex Reccurence</dc:creator>
				<category><![CDATA[Education]]></category>
		<category><![CDATA[Materi Dasar SAR]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://licinpisan.wordpress.com/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[2.1.3 Sistem SAR Ada 5 tahapan dalam operasi SAR : A. Awareness Stage (Tahap Kekhawatiran) Adalah kekhawatiran bahwa suatu keadaan darurat diduga akan muncul (saat disadarinya terjadi keadaan darurat/ musibah) B. Initial Action Stage (Tahap Kesiagaan/ Preliminary Mode) Adalah tahap seleksi informasi yang diterima, untuk segera dianalisa dan ditetapkan bahwa berdasarkan informasi tersebut, maka keadaan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=licinpisan.wordpress.com&amp;blog=13934866&amp;post=21&amp;subd=licinpisan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><span id="more-21"></span>2.1.3 <strong>Sistem SAR</strong></strong></p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Ada 5 tahapan dalam operasi SAR :</span></p>
<table border="0" cellpadding="0" width="100%">
<tbody>
<tr>
<td width="3%"><strong>A.</strong></td>
<td width="4%"></td>
<td width="93%"><strong>Awareness Stage   (Tahap Kekhawatiran)</strong></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td>Adalah kekhawatiran   bahwa suatu keadaan darurat diduga akan muncul (saat disadarinya terjadi   keadaan darurat/ musibah)</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td><strong>B.</strong></td>
<td></td>
<td><strong>Initial Action   Stage (Tahap Kesiagaan/ Preliminary Mode)</strong></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td>Adalah tahap seleksi   informasi yang diterima, untuk segera dianalisa dan ditetapkan bahwa   berdasarkan informasi tersebut, maka keadaan darurat saat itu   diklasifikasikan sebagai :</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td><em>a</em>.</td>
<td><em>INCERFA (Uncertainity   Phase/ Fase meragukan) :</em></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td>adalah suatu keadaan   emergency yang ditunjukkan dengan adanya keraguan mengenai keselamatan jiwa   seseorang karena diketahui kemungkinan mereka dalam menghadapi kesulitan.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td><em>b.</em></td>
<td><em>ALERFA (Alert Phase/   Fase Mengkhawatirkan/ Siaga) :</em></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td>adalah suatu keadaan   emergency yang ditunjukkan dengan adanya kekhawatiran mengenai keselamatan   jiwa seseorang karena adanya informasi yang jelas bahwa mereka menghadapi   kesulitan yang serius yang mengarah pada kesengsaraan (distress).</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td><em>c.</em></td>
<td><em>DITRESFA (Ditress Phase/   Fase Darurat Bahaya) :</em></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td>adalah suatu keadaan   emergency yang ditunjukkan bila bantuan yang cepat sudah dibutuhkan oleh   seseorang yang tertimpa musibah karena telah terjadi ancaman serius atau   keadaan darurat bahaya. Berarti, dalam suatu operasi SAR informasi musibah   yang diterima bisa ditunjukkan tingkat keadaan emergency dan dapat langsung   pada tingkat Ditresfa yang banyak terjadi.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td><strong>C.</strong></td>
<td></td>
<td><strong>Planning Stage   (Tahap Perencanaan/ Confinement Mode)</strong></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td>Yaitu saat dilakukan   suatu tindakan sebagai tanggapan (respons) terhadap keadaan sebelumnya,   antara lain :</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>*</td>
<td>Search Planning Event   (tahap perencanaan pencarian).</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>*</td>
<td>Search Planning Sequence   (urutan perencanaan pencarian).</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>*</td>
<td>Degree of Search   Planning (tingkatan perencanaan pencarian).</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>*</td>
<td>Search Planning   Computating (perhitungan perencanaan pencarian).</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td><strong>D. </strong></td>
<td></td>
<td><strong>Operation Stage   (Pertolongan)</strong></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td>Detection Mode/ Tracking   Mode And Evacuation Mode, yaitu seperti dilakukan operasi pencarian dan   pertolongan serta penyelamatan korban secara fisik. Tahap operasi meliputi :</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>*</td>
<td>Fasilitas SAR bergerak   ke lokasi kejadian.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>*</td>
<td>Fasilitas SAR bergerak   ke lokasi kejadian.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>*</td>
<td>Melakukan pencarian dan   mendeteksi tanda-tanda yang ditemui yang diperkirakan ditinggalkan survivor   (Detection Mode).</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>*</td>
<td>Mengikuti jejak atau   tanda-tanda yang ditinggalkan survivor (Tracking Mode).</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>*</td>
<td>Menolong/ menyelamatkan   dan mengevakuasi korban (Evacuation Mode), dalam hal ini memberi perawatan   gawat darurat pada korban yang membutuhkannya dan membawa korban yang cedera   kepada perawatan yang memuaskan (evakuasi).</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>*</td>
<td>Mengadakan briefing   kepada SRU.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>*</td>
<td>Mengirim/   memberangkatkan fasilitas SAR.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>*</td>
<td>Melaksanakan operasi SAR   di lokasi kejadian.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td>*</td>
<td>Melakukan penggantian/   penjadualan SRU dilokasi Kejadian.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
</tr>
<tr>
<td><strong>E.</strong></td>
<td></td>
<td><strong>Mission   Conclusion Stage (Tahap Akhir Misi / Evaluasi)</strong></td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td>Merupakan tahap akhir   operasi SAR, meliputi penarikan kembali SRU dari lapangan ke posko,   penyiagaan kembali tim SAR untuk menghadapi musibah selanjutnya yang   sewaktu-waktu dapat terjadi, evaluasi hasil kegiatan, mengadakan pemberitaan   (Press Release) dan menyerahkan jenasah korban, survivor kepada yang berhak   serta mengembalikan SRU pada instansi induk masing-masing dan pada kelompok   masyarakat.</td>
</tr>
<tr>
<td></td>
<td></td>
<td></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><strong>2.1.4 <strong>Pola-pola Pencarian</strong></strong></p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Ada 8 kelompok utama pola pencarian, sebagai berikut :</span></p>
<p>- track line<br />
- parallel<br />
- creeping line<br />
- square<br />
- sector<br />
- contour<br />
- flare<br />
- homing</p>
<p>Pola-pola pencarian yang sering dilakukan pada misi SAR darat (khususnya di Indonesia) adalah track line, parallel, dan contour. Untuk menamakan sesuatu pada pencarian SAR. Biasanya digunakan dengan huruf-huruf awal yang terdiri dari 3 huruf.</p>
<p><em>Huruf 1</em> : Pola pencarian yang digunakan, misalnya T (track line), P (parallel)<br />
<em>Huruf 2</em> : Unit yang terlibat, misalnya : S (single unit), M (multi unit).<br />
<em>Huruf 3</em> : Keterangan pelengkap, misalnya :<br />
<strong>C</strong> = coordinated (dengan koordinasi) atau circle (melingkari)<br />
<strong>R</strong> = radar (digunakan untuk pengendalian) atau return to starting point<br />
<strong>N</strong> = Non return (tidak perlu kembali ke titik awal)<br />
<strong>L</strong> = Loran line (sesuai garis loran)</p>
<p>Pencarian dengan pola garis lintasan (track line) digunakan :</p>
<ul>
<li>Bila      seseorang dinyatakan hilang pada jalur perjalanan yang direncanakan dan      tidak diketahui data-data lain, berarti jalur perjalanan/garis lintasan      merupakan satu-satunya data.</li>
<li>Untuk      usaha pencarian secara fisik yang pertama kali dapat dilakukan misalnya      meminta bantuan pada pesawat komersil yang kebetulan melintas jalur      tersebut.</li>
</ul>
<p><strong>2.1.5 <strong>Pola track line dikenal 4 jenis :</strong></strong></p>
<p><em>TSR</em> (track line, single unit, return)<br />
<em>TMR</em> (track line, multi unit, return)<br />
<em>TSN</em> (track line, single unit, non return)<br />
<em>TMN</em> (track line, multi unit, non return)</p>
<p><span style="text-decoration:underline;"><br />
Pencarian dengan pola parallel (sejajar memanjang/melingkar), digunakan :</span><br />
a. Bila daerah pencarian cukup luas dan medannya relatif datar.<br />
b. Hanya diketahui posisi duga fari sasaran yang dicari.</p>
<p><span style="text-decoration:underline;">Dikenal 9 bentuk :</span><br />
1. PS (parallel track, single unit)<br />
2. PM parallel track, multi unit)<br />
3. PMR (parallel track, multi unit, return)<br />
4. PMN (parallel track, multi unit, non return)<br />
5. PSC (parallel track, singe unit, circle)<br />
6. PMC (parallel track, multi unit, circle)<br />
7. PSS (parallel track, single unit, spiral)<br />
8. PSL (parallel track, single unit, loran)<br />
9. PSA (parallel track, single unit, arc)<br />
<span style="text-decoration:underline;">Pencapaian dengan pola contour digunakan untuk daerah yang bergunung dan berbukit. Syarat :</span></p>
<p>- Anggota SRU harus berpengalaman, mempunyai kondisi dan daya tahan tinggi.<br />
- Briefing harus baik, dengan peta yang cukup luas.<br />
- Keadaan cuaca harus baik, termasuk visibility (jangkauan pandang) dan keadaan anginnya.</p>
<p>Simkuring di dieu mung hoyong ngabejaan batur,,,  sumber asli na tina ; www.google.com</p>
<p>hapunten pisan ka penulis bilih teu raos manah* <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/licinpisan.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/licinpisan.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/licinpisan.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/licinpisan.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/licinpisan.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/licinpisan.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/licinpisan.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/licinpisan.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/licinpisan.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/licinpisan.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/licinpisan.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/licinpisan.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/licinpisan.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/licinpisan.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=licinpisan.wordpress.com&amp;blog=13934866&amp;post=21&amp;subd=licinpisan&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://licinpisan.wordpress.com/2010/01/01/21/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/66a5e99c4e95b19efeb7bf86d4ca3525?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">licinpisan</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
